Teroris Marak, Bentuk Kegagalan Negara

82
BAHTSUL MASAIL : Kegiatan yang diikuti 150 peserta ini digelar di Ponpes Al-Azhar Kesongo Tuntang, kemarin (4/5). (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAHTSUL MASAIL : Kegiatan yang diikuti 150 peserta ini digelar di Ponpes Al-Azhar Kesongo Tuntang, kemarin (4/5). (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA-Maraknya tindak terorisme di Nusantara, lantaran kegagalan negara mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya keadilan sosial dan terciptanya kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Korupsi yang masih menggurita adalah bukti nyata kegagalan itu. Teror kekerasan yang terjadi di Ambon, Irian, Aceh, Poso, dan daerah-daerah lainnya mencerminkan lunturnya konfigurasi yang plural terhadap kehidupan yang relatif harmonis selama ini.

Hal tersebut terungkap dalam kajian Bahtsul Masail dengan tema Menangkal Radikalisme di Indonesia yang dilaksanakan oleh Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) IAIN Salatiga bekerja sama dengan Ittihad al Mutakharij al Falah Ploso Kediri wilayah Salatiga-Kabupaten Semarang dalam acara Pemberdayaan Pesantren dan Sosialisasi IAIN Salatiga. Kegiatan yang diikuti 150 peserta ini digelar di Ponpes Al-Azhar Kesongo Tuntang dengan narasumber Ustad Abdul Manan (Pengasuh Ponpes Al-Falah Kediri) dan H Sidqon Maesur (Wakil Dekan 1 FUAH IAIN Salatiga), kemarin (4/5).

“Masyarakat Indonesia sebagai masyarakat religius dengan peradaban ketimuran, seharusnya mampu memanifestasikan nilai dan ajaran agama dengan penuh kedamaian,” kata KH Sidqon Maesur. Menurutnya, itulah Islam Indonesia yang berbeda dengan Islam Arab, Islam Yaman, Islam Syiria, Irak dan Islam dari Timur Tengah.

Islam Indonesia, menurutnya, perpaduan tradisi NU-Muhammadiyah, Islam yang toleran, Islam yang menghargai budaya dan kearifan lokal, Islam yang tumbuh dan besar di pesantren dan IAIN.

“Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora IAIN Salatiga dengan 5 jurusan Ilmu Alquran Tafsir, Ilmu Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam, Filsafat Agama, serta Bahasa dan Sastra Arab, siap menjadi laboratorium mengembangkan kajian Islam Indonesia untuk meningkatkan martabat dan kedamaian umat manusia,” timpal Dekan FUAH IAIN Salatiga, Benny Ridwan.

KH Abdul Manan menyebutkan bahwa dalam sejarah Islam, tindakan teror dilakukan dalam bentuk pengkafiran. Paling awal gemar dilakukan oleh kelompok Khawarij, sekelompok orang yang keluar (desersi) dari barisan Khalifah Ali ibn Abi Thalib (yang memerintah tahun 665-660 M) terkait Tahkim dalam perang Shiffin melawan Mu’awiyah. (sas/ida)