BERJALAN LANCAR : Pelaksanaan Unas siswa MTs At Thohiriyah Simbang Wetan yang diungsikan di SMP Islam Simbang Wetan berjalan lancar pada hari pertama Senin (4/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERJALAN LANCAR : Pelaksanaan Unas siswa MTs At Thohiriyah Simbang Wetan yang diungsikan di SMP Islam Simbang Wetan berjalan lancar pada hari pertama Senin (4/5) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Dampak sengketa antara pengurus yayasan dan pengelola MTs At Thohiriyah di Desa Simbang Wetan Buaran Kabupaten Pekalongan, membuat siswa kelas 9 kembali diungsikan. Hingga dalam pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) Senin (4/5) kemarin, digelar dengan menumpang di SMP Islam Simbang Wetan.

Kepala SMP Islam Simbang Wetan, Hasan Khuluqin, menyatakan bahwa pihaknya pada Selasa (28/4) lalu disurati Kemenag Pekalongan terkait peminjaman lokasi untuk Unas siswa MTs At Thohiriyah.

“Saat menerima surat tersebut kami sedikit bingung. Kami takutnya ada dampak negatif dari kedua belah pihak yang bertikai. Namun kami niati, semua demi anak. Bismillah kami mempersilahkan digelar disini di ruang serba guna,” katanya, Senin (4/5) kemarin.

Ada 37 siswa MTs At Thohiriyah yang terdaftar sebagai peserta Unas. Namun ada satu yang mengundurkan diri sebelum konflik terjadi, akhirnya tinggal 36 anak yang mengikuti Unas. Ditempatkan dalam 2 ruangan, ruang pertama sebanyak 20 siswa dan ruang kedua sebanyak 17 siswa.

“Sebanyak 36 siswa MTs At Thohiriyah yang mengikuti Unas, terdiri atas 17 anak laki-laki dan 19 anak perempuan. Semua mengikuti ujian, walaupun sempat ada yang telat datang karena sakit,” terangnya.

Kepala Kemenag Kabupaten Pekalongan, A Umar yang datang ke lokasi mengungkapkan bahwa Unas MTs At Thohiriyah semula akan digelar kembali di Balai Desa Simbang Wetan seperti UM sebelumnya. Namun Dinas Pendidikan tidak mengizinkan. “Disarankan untuk pinjam kelas di sekolah lain, akhirnya kami pilih disini,” terangnya.

Terkait kisruh Yayasan dan Pengelola At Thohiriyah, pihak Kemenag hanya bisa menekan secara teknis. “Kewenangan kami adalah masalah teknis dan administrasi saja, bukan wilayah hukum. Namun akan segera kami evaluasi, minimal Unas selesai dulu,” bebernya.

Sebenarnya kata Umar, KBM di MTs At Thohiriyah masih lancar di lokasi lama atau tempatnya Pak Thohir. Pihaknya juga belum melakukan langkah-langkah kongkrit, menunggu Unas selesai dulu.

Pada Unas hari pertama, sempat ada siswa MTs At Thohiriyah yang datang menangis karena stres dan sakit. Juga ada siswa yang belum datang, padahal ujian akan dilaksanakan. Akhirnya dijemput oleh salah satu guru. “Enak disini dibanding di Balai Desa seperti kemarin, namun kalau bisa ujiannya di tempat Pak Thohir,” kata salah satu siswa MTs At-Thohiriyah, Melli.

Sementara itu, pelaksanaan Unas tersebut sempat akan diboikot para wali murid siswavkelas 9. Mereka menginginkan Unas dilaksanakan di lokasi lama MTs At-Thohiriyah. “Wali murid sempat mau memboikot, mereka tetap mempermasalahkan ujian kenapa tidak di lokasi sekolah, tapi malah di sekolah lain,” terangnya.

Tidak berhenti disitu, pihak Yayasan juga mempermasalahkan kartu ujian yang bertanda tangan Kepala Sekolah Thohir yang sudah dipecat Yayasan. Akhirnya agar situasi tetap kondusif, pihak Kemenag berkoordinasi dengan Babinkamtibnas agar Unas bisa digelar di SMP Islam Simbang Wetan. (han/ida)