MERANA: Pelatih PSIS M Dofir saat melatih tim beberapa waktu lalu. Sebagai pelatih profesional, Dofir sangat dirugikan dengan kistruh sepak bola nasional seperti saat ini. Sementara pemain terpaksa mencari pendapatan dengan ikut turnamen atau sepak bola tarkam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
MERANA: Pelatih PSIS M Dofir saat melatih tim beberapa waktu lalu. Sebagai pelatih profesional, Dofir sangat dirugikan dengan kistruh sepak bola nasional seperti saat ini. Sementara pemain terpaksa mencari pendapatan dengan ikut turnamen atau sepak bola tarkam. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kisruh sepak bola nasional yang berujung pada pemberhentian kompetisi baik Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama maupun Liga Nusantara berdampak buruk bagi kondisi psikis pemain serta ofisial tim yang terlibat di dalamnya.

Kapten tim PSIS, Fauzan Fajri mengatakan, situasi tersebut membuat pemain-pemain PSIS tidak nyaman. Maklum saja, bagi pemain, dengan berhentinya kmpetisi tentu mata pencaharian mereka juga ikut terhenti. “Pada akhirnya pemain yang kena getahnya. Padahal sebagian besar dari kami adalah tulang punggung keluarga, nah kalau mata pencaharian kami hilang terus bagaimana?,” kata pemain yang telah dua musim berkostum Mahesa Jenar itu.

Dengan bubarnya kompetisi, dan tim-tim peserta juga memutuskan untuk vakum, diakui Fauzan juga cukup memukul mental pemain. Pihaknya juga ragu kompetisi bisa kembali berputar dalam waktu dekat ini. “Yang jelas kami harus kembali memutar otak untuk mencari pemasukan tambahan, karena sebagian besar dari kami memang menggantungkan hidup dari sepak bola,” lanjut mantan kapten tim sepak bola Jateng di PON Riau 2012 itu.

Sementara ditemui di tempat yang sama di Stadion Jatidiri Semarang Sore (5/4) kemarin, pelatih tim Mahesa Jenar M Dofir mengatakan, pelatih serta ofisial tim-tim yang ada di Indonesia bisa menerima nasib yang lebih ironis. “Kalau pemain mungkin bisa sedikit bernafas dengan mengikuti turnamen-turnamen tarkam (antar kampung, red). Nah, kalau pelatih dan ofisial tim yang benar-benar mengandalkan sepak bola sebagai profesi utama mereka bagaimana?,” tegasnya.

Itulah mengapa Dofir berharap kondisi sepak bola di Indonesia bisa semakin membaik, sehingga tidak semakin banyak pihak-pihak yang dirugikan lantaran perseteruan petinggi-petinggi di induk olahraga di Indonesia itu. “Banyak hal yang akan dirugikan. Yang utama tentu dari para pelaku sepak bola itu sendiri, pemain, pelatih serta ofisial belum lagi masyarakat umum yang juga banyak menggantungkan hidup dari pertandingan sepak bola. Yang jelas kerugiannya sangat besar sekali,” sambung Dofir. (bas/smu)