KOMODITAS POKOK : Pekerja memindahkan beras di Pasar Dargo yang menjadi salah satu sentra penjualan beras Kota Semarang. Panen raya yang terjadi membuat beras menyumbang angka deflasi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMODITAS POKOK : Pekerja memindahkan beras di Pasar Dargo yang menjadi salah satu sentra penjualan beras Kota Semarang. Panen raya yang terjadi membuat beras menyumbang angka deflasi. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah pada bulan April mengalami inflasi sebesar 0,17 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan Maret yang mengalami inflasi sebesar 0,16 persen.

Kepala Bidang Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Jamjam Zamachsyari mengatakan, inflasi terjadi disebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas. Diantaranya bahan bakar minyak (BBM), tarif kereta api, serta bahan bakar rumah tangga dan gula pasir. “Memang bensin naiknya pada bulan Maret, tapi di akhir. Oleh karena itu dampaknya lebih banyak dirasakan saat bulan April. Pun dengan tarif kereta api yang April ini ada penyesuaian harga,” ujarnya, kemarin (4/5).

Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya deflasi adalah beras, cabai rawit, wortel, tarif listrik dan kentang. Beras memberikan kontribusi dalam menekan inflasi karena April lalu terjadi panen. “Di bulan April kemarin, panen raya, sehingga beras cukup banyak di pasaran, harga juga terkendali sehingga menekan inflasi. Begitu juga dengan cabai rawit yang harganya mulai stabil di banding bulan-bulan sebelumnya,” ujar Jamjam.

Kepala Bulog Divre Jateng Damin Hartono mengatakan, bulan April lalu penyerapan beras Bulog terus mengalami peningkatan per minggunya. Dari yang awal minggu sekitar 1.500 ton per hari, kemudian meningkat hingga 3.000 ton per hari di akhir April. “Akhir April lalu serapan Bulog setiap harinya mencapai 3.000 ribu per ton. Peningkatan serapan tersebut terjadi karena banyak petani yang melalui mitra kerja Bulog memilih untuk mengosongkan gudang mereka untuk selanjutnya diisi oleh hasil panen kedua yang akan dimulai sekitar dua minggu lagi,” ujarnya.

Jamjam menambahkan, dari enam ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi. Tertinggi terjadi di Serang sebesar 0,94 persen, kemudian Bandung sebesar 0,43 persen, Surabaya sebesar 0,41 persen, Yogyakarta sebesar 0,38 persen, DKI sebesar 0,27 persen dan terendah Semarang sebesar 0,17 persen. “Sejauh ini inflasi kota Semarang cukup terkendali,” ujarnya. (dna/smu/ric)