BUTUH PEMIMPIN GILA: Diskusi politik yang diselenggarakan partai Koalisi Tugu Muda di Hotel Pandanaran, Minggu (3/5) kemarin. (RIZAL KURNIAWAN/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH PEMIMPIN GILA: Diskusi politik yang diselenggarakan partai Koalisi Tugu Muda di Hotel Pandanaran, Minggu (3/5) kemarin. (RIZAL KURNIAWAN/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEKAYU- Suhu politik jelang pemilihan wali kota (Pilwalkot) Semarang 2015 semakin memanas. Dua kandidat telah menyatakan kesiapannya meramaikan bursa Pilwalkot pada 9 Desember mendatang. Hendrar Prihadi dari PDIP dan Soemarmo HS yang telah mendaftarkan diri melalui Koalisi Partai Gerindra-PAN. Sementara koalisi PKS-Golkar-Demokrat masih belum menentukan figur untuk diusung.

Ada satu sosok yang namanya cukup diperhitungkan untuk menyaingi dua kandidat yang telah muncul, yakni Yoyok Sukawi dari Demokrat. Hanya saja, putra Wali Kota Semarang periode 1999-2009 itu, masih belum berani menyatakan kesiapannya.

Saat ditanya terkait pencalonan dirinya, Yoyok enggan memberi komentar secara tegas. Namun dia memberi bocoran jika pencalonan dirinya masih menunggu hasil survei elektabilitas. Artinya, dorongan dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk memutuskan pencalonan dirinya.

“Walaupun saya berpolitik, tapi saya punya etika. Karena saya baru terpilih jadi dewan (DPRD Provinsi Jateng). Tapi kita realitas saja, kalau memang surveinya tinggi, didukung masyarakat, akan jadi pertimbangan saya (maju calon wali kota),” terang Yoyok usai diskusi politik “Semarang Saiki Sesuk” yang diselenggarakan oleh Kolisi Tugu Muda (PKS-Golkar-Demokrat), di Hotel Pandanaran, kemarin (3/5).

Dalam diskusi tersebut menghadirkan sejumlah elemen, seperti dari kalangan akademisi, tokoh masyarakat, kader partai, serta kandidat bakal calon (balon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang. Seperti Soemarmo HS, Ketua Umum PGRI Sulistyo, Bambang Sadono (anggota DPD RI), Agus Hermanto (Wakil Ketua DPP Demokrat), Mahfudz Ali, Joko Setidjowarno, Teguh Yuwono (moderator), dan lainnya.

Menurut Yoyok, keberadaan koalisi Tugu Muda ini memberi warna baru bagi masyarakat Kota Semarang. Dalam penjaringan dan pendaftaran yang segera dibuka, pihaknya akan mengubah mindset masyarakat, di mana dalam pencalonan kepala daerah melalui parpol selama ini didominasi kader partai dan harus memiliki modal finansial yang besar.

“Kalau bicara posisi saya sebagai desk pilkada Jateng, koalisi Tugu Muda ini memberikan warna baru. Kita juga akan ubah mindset pendaftaran (calon wali kota-wakil wali kota) tidak lagi didominasi kader partai dan harus membayar. Jadi, bagi masyarakat dari berbagai kalangan berniat mendaftar silakan saja,” tandas Ketua Komisi E DPRD Jateng ini.

Ketua Koalisi Tugu Muda, Agung Budi Margono, menambahkan, melihat kondisi partai saat ini memang butuh partner publik. Jadi, tidak lagi mengandalkan figur internal atau kader saja. Tapi sebuah partai menjadi ruang untuk bersosialisasi.

“Kalau calon dari kader partai itu (figurnya) hanya sekian persen, tapi kalau dari masyarakat itu banyak. Jadi, kita juga ingin menjaring aspirasi dari masyarakat, figur pemimpin yang diinginkan masyarakat. Karena ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak,” terang Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini.

Sementara itu, Soemarmo HS berharap koalisi Tugu Muda juga bisa merangkul partai-partai lain baik yang belum memiliki koalisi maupun yang telah berkoalisi. Sebab dia sadar, untuk memimpin Kota Semarang, butuh kekuatan dari legislatif. Jika tidak, maka pemerintahan atau proses pembangunan tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, mantan Sekda Kota Semarang itu memiliki misi menyatukan partai yang selama ini tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) dan sejumlah partai yang bergabung dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH).

“KMP dan KIH harus bersatu di Kota Semarang. Kita berharap PKS-Golkar-Demokrat, dan Gerindra-PAN bergabung, termasuk partai yang selama ini belum memiliki koalisi, seperti PPP, PKB, dan Nasdem. Semua itu untuk kondusivitas pemerintahan,” harap Soemarmo.

Wakil Wali Kota Semarang periode 2004-2009, Mahfudz Ali, berharap Pilwalkot Desember mendatang tidak hanya diramaikan dua pasangan calon saja. Menurutnya, jika hanya dua pasangan atau head to head, maka itu sebuah kecelakaan demokrasi.

“Jadi harus ada tiga pasangan calon, paling tidak, ada dari kalangan akademisi, perguruan tinggi. Jangan hanya Hendi dan Marmo tok. Pengalaman (Pilpres) dua pasangan calon, Prabowo dan Jokowi, masyarakat jadi terbelah. Jadi, jangan sampai pengalaman itu terulang lagi,” tegasnya.

Dalam diskusi kemarin memunculkan harapan, sosok pemimpin Kota Semarang nantinya adalah orang yang “gila”. Dalam artian memiliki inovasi-inovasi untuk membangun Kota Semarang lebih baik lagi, dan dapat mengurai persoalan yang selama ini melanda Kota Atlas. (zal/aro)