Pangkalan Harus Sampai Desa

123
LANGKA: Seorang petugas sedang menurunkan gas LPG 3 Kg dari mobil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANGKA: Seorang petugas sedang menurunkan gas LPG 3 Kg dari mobil. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kalangan DPRD Jateng menyorot sering terjadinya kelangkaan LPG 3 Kg di Jateng. Pihak Pertamina selaku operator operator pengadaan serta distribusi minyak dan gas harus bertanggungjawab dan mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang tiap bulan. “Kalau LPG terus-terusan langka di pasaran, jelas ini akan menjadi masalah. Karena LPG ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat,” kata Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah Chamim Irfani.

Seperti diketahui, kelangkaan LPG 3 Kg kembali terjadi di Jateng. LPG di sejuumlah daerah seperti Wonogiri, Sukoharjo dan sejumlah daerah sulit didapatkan. Chamim menilai operasi pasar yang dilakukan selama ini tidak menyelesaikan masalah. “Kalau operasi pasar itu hanya mengobati sesaat. Tapi nyatanya tiap bulan pasti ada kelangkaan LPG di Jateng,” imbuhnya.

Politisi PKB ini mendesak, pertamina memperbaiki sistem distribusi gas LPG. Ia menilai, pangkalan LPG 3 Kg yang hanya tingkat kecamatan menjadi salah satu persoalan distribusi LPG kurang maksimal. Mestinya, pangkalan diperbanyak sampai tingkat desa atau kelurahan. Kalau pengecer, biasanya barangnya tidak banyak dan harganya cukup mahal. “Mesti ada solusi untuk memperbanyak pangkalan, agar masyarakat tidak sulit untuk mencari LPG. Masyarakat berhak mendapat LPG sesuai HET yang ditetapkan Gubernur Jateng Rp. 15.500 di pangkalan,” tambanya.

Data dari Disperindag Jateng, stok LPG 3 Kg di Jateng sudah cukup banyak. Yakni sekitar 900 ribu tabung untuk masyarakat Jateng. Dewan meminta agar distribusi diperketat sampai tingkat bawah. “LPG 3 Kg kan subsidi untuk masyarakat. Jadi harus ada pengawasan agar distribusinya bisa sampai yang membutuhkan,” kata Anggota Komisi B Helmi Turmudi.

Ia menambahkan, kelangkaan LPG ini sepertinya selalu menjadi persoalan seriys yang harus diselesaikan. Sebab, hampir tiap bulan kondisi itu selalu terjadi di masyarakat. Yang ironis, ketika LPG langka justru LPG yang ada dipatok dengan harga tinggi. Jelas ini bakal menyulitkan masyarakat, terutama kalangan usaha kecil. (fth)