DOKUMENTASI: Seorang warga mendokumentasikan bagian atap Pasar Peterongan menggunakan gambar sketsa. (PRATONO/RADAR SEMARANG)
DOKUMENTASI: Seorang warga mendokumentasikan bagian atap Pasar Peterongan menggunakan gambar sketsa. (PRATONO/RADAR SEMARANG)

PETERONGAN—Pemerintah Kota Semarang dalam waktu dekat akan mulai merevitalisasi Pasar Peterongan. Banyak bagian bangunan yang rencananya mau dibongkar, termasuk bagian yang tergolong cagar budaya. Sejumlah seniman, budayawan, sejarawan, fotografer, hingga warga biasa Minggu (3/5), blusukan ke Pasar Peterongan untuk mendokumentasikan bangunan dan suasana pasar sebelum diubah.

Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Rukardi Achmadi mengatakan, sebagian bangunan yang berdiri pada 1916 tersebut akan dipertahankan sebagaimana aslinya. Hanya saja, seberapa besar yang dipertahankan, ia belum mendapatkan gambaran jelas dari Pemkot Semarang. “Dinas Pasar belum secara rinci menjelaskan bagian mana saja yang akan dibongkar dan yang dipertahankan. Kami berharap, bangunan lama tetap dipertahankan, termasuk pohon asam Mbah Gosang,” jelasnya.

Dijelaskan lebih lanjut, untuk mengenang Pasar Peterongan sebelum dibongkar, sejumlah pihak ingin mendokumentasikan dalam berbagai media. Misalnya dari komunitas ORArT ORET mendokumentasikan lewat gambar sketsa. Fotografer memotret berbagai sudut pasar dan suasana di dalamnya. Seniman puisi membuat puisi tentang Pasar Peterongan.

Pasar Peterongan memiliki sejarah besar bagi perkembangan Kota Semarang modern. Pasar ini merupakan pasar pertama di Semarang yang dibangun menggunakan konstruksi beton bertulang, termasuk bagian atap.

Secara budaya dan konservasi lingkungan, pasar ini juga memiliki keunikan. Yakni pohon asam Mbah Gosang. Pohon asam yang menjadi ciri khas Kota Semarang ini usianya diperkirakan lebih tua dari usia Pasar Peterongan. Uniknya, sebagian besar buah asam dari pohon ini tidak memiliki klungsu atau biji sebagaimana buah asam pada umumnya. Pohon ini “dikeramatkan” oleh pedagang dan masyarakat setempat. Sebuah ritual budaya Ruwatan Mbah Gosang secara rutin digelar pada 10 Muharram pada penanggalan Islam.

Dadang Pribadi kemarin menjadi salah satu pengunjung yang mendokumentasikan pasar lewat sketsa. Lewat goresan pena, ia menggambar bagian atap pasar dan suasana di dalamnya. “Rencananya hasil dari pendokumentasian ini, nanti akan kami pamerkan,” jelasnya. (ton/zal)