Ingkari Aturan Gusti, Rakyat yang Bergerak

171
SARASEHAN-Dua pembicara Teguh Puji Harsono dan Yayat Hidayat Amir dalam saresehan kebudayaan yang dilaksanakan alumni GMNI di Gedung Mulya Dana Alun-Alun Kota Tegal. (ABIDIN ABROR/RATEG)
SARASEHAN-Dua pembicara Teguh Puji Harsono dan Yayat Hidayat Amir dalam saresehan kebudayaan yang dilaksanakan alumni GMNI di Gedung Mulya Dana Alun-Alun Kota Tegal. (ABIDIN ABROR/RATEG)

Masyarakat Jawa sejak lama dikenal memiliki falsafah penting yang layak untuk menjadi pelajaran. Filosofi leluhur Jawa, misalnya dalam bentuk pitutur, diturunkan dari generasi ke generasi. Manusia hidup sebagaimana dalam pitutur Jawa, muaranya adalah keharmonisan.

KEHARMONISAN adalah antara hati, bumi, dan gusti. Kalau mengingkari hati nurani dan tidak mengikuti cara hidup di bumi yang diinjak, maka orang tersebut termasuk mengingkari gusti. Kalau dia mengingkari gusti dalam konteks manunggaling kawula gusti, maka rakyatnya akan bergerak. Seperti kalau pemimpin menyakiti rakyat, maka gusti akan murka.

“Begitupun pemimpin yang tidak bisa mengayomi atau melayani masyarakatnya dengan lemah lembut, maka pemimpin tersebut sudah gagal dalam memimpin,” kata Ir Teguh Puji Harsono, dalam saresehan kebudayaan yang digelar alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengangkat tema Sosok Satria Dalam Kosmologi Negara Patirtan, di Gedung Mulya Dana Alun-Alun Kota Tegal.

Sebagaimana sesanti leluhur Urip kudu manut cara lemahe (hidup itu harus taat dimana tanah dipijak), bagi Teguh, sungguh hal yang menarik untuk dikaji lebih dalam sebagai bagian dari upaya mencapai kehidupan bersama yang damai, adil, makmur dan sejahtera.

“Alasannya sangat sederhana sebab sesanti tersebut mengajak kita untuk mengerti betul tentang lemah (tanah, red) yang kita tempati dengan segala pengaruh aspek kosmologinya. Kesadaran akan lemah atau ruang yang kita tempati inilah yang nantinya akan menjadi awal pertimbangan bagi munculnya kesadaran gerak, perilaku dan sikap hidup agar harmonis dengan lingkungan, sesama dan Tuhan,” kata Teguh.

Lalu apa pendapatnya tentang tanah Tegal ? Secara geologi, Tegal berada di kawasan ujung lempeng Benua Euroasia yang disubduksi oleh lempeng benua Indoaustralia. Ada ancaman bencana maha dahsyat dari sisi tektonik. Karena itu, konsekuensinya dekat dengan Tuhan atau memiliki laku keramat sebagai simbol pada penghambaan dzat kang Murbeng Jagad.

Tegal mempunyai hampir seluruh bentuk rona permukaan tanah dari mulai laut hingga gunung sehingga muncullah konsep segara kebudayaan segara-gunung. Konsekwensinya menurut Teguh , kebijakan pembangunan daerah harus berorientasi pada budaya yang tumbuh di masyarakat tersebut. Sebab hidup di laut, tidak boleh dengan cara gunung. “Begitu juga sebaliknya,” tandasnya.

Seorang pemimpin tak akan melakukan segala sesuatu yang menyakiti hati rakyatnya. Sebab kalau rakyat disakiti, Tuhan akan marah. Demikian pula bahwa seorang pemimpin pun tak akan sekali-kali melakukan perbuatan yang melanggar aturan Gusti-nya, karena kalau demikian rakyatlah yang akan bergerak. Kepemimpinan di negeri pamitran yang bergaya feminisme, dimana yang ditonjolkan adalah sifat kekuatan perempuan yaitu kasih sayang sehingga corak kepemimpinannya lebih kepada melayani dan subyeknya itu disebut pelayan atau pamomong yang menyumblim menjadi sebutan pamong. Pemimpin haruslah ngayomi (melindungi), ngayemi (menetramkan), dan ngayani (melayani) sebagaimana diajarkan oleh Sunan Bonang dalam ajaran yang terkenal dalam sebutan Trisula Krida yang merupakan ikhtisar dari delapan sifat kepemimpinan Jawa (Hasta Brata). (din/jpnn/ida)