DIPANDANG SEBELAH MATA : Petugas pengangkut sedang memeriksa kondisi truk sampah sebelum berangkat mengambil sampah di permukiman warga ke TPA Ngrongo. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
DIPANDANG SEBELAH MATA : Petugas pengangkut sedang memeriksa kondisi truk sampah sebelum berangkat mengambil sampah di permukiman warga ke TPA Ngrongo. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

Di area pembuangan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngronggo Kota Salatiga, beberapa sopir bolak-balik mengangkut sampah. Tidak peduli bau busuk menyeruak memenuhi rongga hidungnya dan jutaan lalat berterbangan di depan wajahnya, mereka tetap bekerja. Demi memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti apa?

BANYAK yang memandang sebelah mata kepada para sopir truk sampah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptakaru) Kota Salatiga. Bahkan ada stigma bahwa petugas pembersih sampah adalah robot yang tidak kenal lelah.

Ironis memang. Bahkan ada sebagian masyarakat yang sempat memaki-maki, lantaran salah seorang sopir menasehati oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan dengan asal melempar. Alasannya masyarakat melempar tersebut cukup nyinyir, bahwa sopir truk sampah dibayar dengan uang rakyat melalui pajak.

Adalah Rusmiyanto, 52, warga Tegalrejo RT3 RW3 kerap menerima perlakuan semacam itu. “Kami petugas juga manusia. Punya hati dan perasaan. Jika dimaki-maki seperti itu, jelas kami marah. Tapi tidak bisa apa-apa,” katanya kepada jawa Pos Radar Semarang, Minggu (3/5) kemarin.
Sebagai sopir truk sampah, Rusmiyanto setiap hari harus 3 kali bolak-balik untuk mengangkut truk sampah. Kadang harus berangkat pukul 05.00 pagi. Karena aktivitas pembuangan sampah dimulai sebelum anak sekolah berangkat sekolah sampai siang hari.

Dirinya bersama beberapa sopir Dinas Ciptakaru lainnya, setiap hari bertanggung jawab terhadap 85 ton sampah di wilayah Kota Salatiga. Memang permasalahan paling krusial yang dialaminya adalah kesadaran masyarakat.

Meskipun sudah diberikan fasilitas TPA Sampah di beberapa wilayah kelurahan, masyarakat masih tetap membuang sampah dengan seenaknya. Di TPA, banyak masyarakat yang membuang sampah asal melempar. Sehingga petugas harus kerja dua kali. Mengumpulkan sampah yang berserakan dan mengangkutnya ke TPA Ngrongo.

“Saya berharap masyarakat sadar bahwa persoalan sampah bukan pekerjaan petugas saja. Tapi pekerjaan bersama. Kalau kita membersihkan, yang lain membuang sembarangan. Masalah sampah tidak akan selesai,” kata Rusmiyanto.

Melihat fenomena seperti itu, Kepala Dinas Ciptakaru, Mustain mengakui bahwa pemanfaatan sampah di Salatiga masih sangat minim. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memilah non organik dan organik masih minim. Bahkan di lingkungan Pemkot Salatiga sekalipun.

“Kami menghimbau, musim penghujan seperti ini, ada kesadaran bersama dalam mengelola sampah. Karena sampah basah dan berat karena terisi air, mempersulit pengangkutan sampah. Selain itu, jangan membuang sampah di sungai. Jika banjir, yang disalahkan kembali adalah pemerintah,” katanya.

Sementara itu, untuk menjaga kesehatan para sopir, pihaknya juga sudah mendaftarkan ke BPJS Kesehatan dan akan diikutkan asuransi dengan premi murah dan terjangkau. “Kami akan menjaminkan mereka (sopir, red) dengan dana kesehatan dan asuransi. Agar kinerja mereka bertambah. Dan jika sakit, gajinya yang dikumpulkan tidak habis untuk berobat,” kata Mustain. (abd/ida)