INSPIRATIF: Sri Haryono, pencipta permainan tonnis. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INSPIRATIF: Sri Haryono, pencipta permainan tonnis. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pernah mendengar olahraga tonnis? Permainan ini diciptakan oleh Sri Haryono dengan menggabungkan antara badminton dan tenis lapangan. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Sekaran

TONNIS sebenarnya sudah diciptakan sejak 2005 atau sudah 10 tahun. Namun hingga kini memang belum begitu dikenal masyarakat. Permainan yang dapat dilakukan oleh anak-anak hingga dewasa ini diciptakan oleh Sri Haryono, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Menurut Haryono, badminton merupakan olahraga yang sudah memasyarakat. Semua kalangan sudah dapat memainkannya. Sebaliknya, tenis lapangan merupakan olahraga yang menurut Sri Haryono, identik dengan permainan kelas menengah ke atas. Selain sarana lapangan yang terbatas, olahraga ini di kalangan masyarakat bawah kurang begitu diminati.

Karena itulah, Sri Haryono ingin mengubah image tenis menjadi olahraga yang dapat dimainkan oleh semua kalangan dengan memodifikasinya menjadi olahraga tonnis.

”Saya bersama Pak Tri Nur Harsono yang memiliki andil dalam penciptaan olahraga ini sebelumnya memang prihatin. Kenapa olahraga tenis diidentikkan dengan olahraganya orang kaya? Mungkin karena minimnya sarana hingga tenis tidak banyak peminatnya,” ujar Haryono kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (1/5).

Dia menjelaskan, permainan tonnis hampir sama dengan tenis lapangan. Namun permainan tonnis menggunakan lapangan yang berukuran sama dengan lapangan badminton. Yakni, berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 13,40 meter dan lebar 6,10 meter. Pada bagian tengah lapangan dibatasi dengan net yang tingginya 80 sentimeter. Permukaan lapangan sendiri dapat berupa tanah liat, rumput atau lapangan keras yang terbuat dari semen.

”Untuk membuat lapangan tonnis tidak perlu membutuhkan lahan yang luas seperti lapangan tenis lapangan pada umumnya. Sehingga di lingkungan masyarakat dimungkinkan untuk dapat membuat lapangan tonnis yang selama ini dipakai bulu tangkis,” paparnya.
Dikatakan, tonnis merupakan jenis permainan menggunakan bola kecil dan paddle (pemukul yang terbuat dari kayu) dan dilakukan oleh satu atau dua pemain yang saling berhadapan.

Menurut Haryono, secara garis besar, permainan tonnis dimainkan dengan cara dan peraturan yang hampir sama dengan tenis lapangan. Bahkan tonnis dapat dijadikan permainan dasar sebelum berlatih tenis.

”Paddle sendiri terbuat dari kayu yang ringan tetapi kuat atau tidak mudah patah, seperti papan multiplex dengan ketebalan 8 sampai 12 milimeter. Bola untuk permainan tonnis menggunakan bola yang seukuran bola tenis. Tetapi memiliki tekanan udara yang sangat kurang. Agar pantulan bola tidak keras,” bebernya.

Haryono menjelaskan, permainan ini kali pertama diperkenalkan pada 2005 silam. Saat itu diujicobakan dalam kegiatan pameran industri olahraga nasional yang digelar FIK Unnes bersama Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI pada 15-17 Desember 2005. Kini, olahraga tonni sudah dikenal hingga mancanegara. Pencipta permainan ini sengaja mengenalkan tonnis di kalangan internasional melalui kunjungan-kunjungan antaruniversitas.

”Tapi sayang, olahraga ini belum terdaftar di Kemenpora. Sehingga belum bisa dimasukkan dalam cabor (cabang olahraga) pada PON (Pekan Olahraga Nasional). Beberapa sekolah juga ada yang sudah memainkan permainan ini. Namun belum diajarkan secara detail,” katanya.
Kendala yang dihadapi hingga kini yakni belum dimasukkannya permainan tonnis di kurikulum. Sehingga belum semua sekolah mengajarkannya.

Dikatakan Haryono, permainan ini memang tergolong murah dan dapat dilakukan di mana saja. Selain itu, olahraga ini juga belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Meski begitu, tonnis tetap diajarkan secara mendetail dalam perkuliahan di FIK Unnes.

”Kita berharap, permainan tonnis dapat segera diakui dan tercatat di Kemenpora. Sehingga jenis olahraga ini dapat dikenal oleh masyarakat secara luas. Di luar negeri sendiri, permainan ini mendapat sambutan yang antusias. Mereka sangat respect. Yang kami takutkan, nantinya permainan ini diklaim oleh negara luar,” ujarnya. (*/aro/ce1)