Kirab Bende Peninggalan Majapahit

122
RITUAL RAJAB: Sesepuh Desa Wisata Nongkosawit saat kirab Bende yang konon sebagai sarana penyebaran Islam peninggalan zaman Majapahit. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RITUAL RAJAB: Sesepuh Desa Wisata Nongkosawit saat kirab Bende yang konon sebagai sarana penyebaran Islam peninggalan zaman Majapahit. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RITUAL RAJAB: Sesepuh Desa Wisata Nongkosawit saat kirab Bende yang konon sebagai sarana penyebaran Islam peninggalan zaman Majapahit. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

NONGKOSAWIT – Ribuan warga Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Semarang tumpah ruah saat melakukan ritual Nyadran Kubur di Makam Sipule, Kamis (30/4) petang lalu. Ritual ini sebagai bentuk syukur warga atas rezeki dan kesehatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Sesepuh Desa Wisata Nongkosawit, Karsidi Nur Hasan, mengatakan, ritual tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Pangeran Harto Gumelar yang merupakan tokoh penyebar agama Islam dari Kerajaan Majapahit di daerah lereng Gunung Ungaran. Kegiatan yang dilakukan berupa bersih-bersih makam, lungtinampen bende peninggalan Kiai Wali Kartona, pensucian bende, serta arak-arakan bende.

Karsidi Nur Hasan menjelaskan, bende yang disucikan dan dikirab dahulu digunakan sebagai alat untuk mengumpulan warga. ”Ritual ini rutin digelar pada Kamis Wage penanggalan Jawa atau setiap bulan Rajab sebelum bulan puasa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Arak-arakan bende diramaikan rombongan gunungan, serta setan penggoda yang diartikan cobaan dalam kehidupan. ”Bende tersebut sangat bersejarah sebagai alat mengumpulkan warga untuk syiar agama ataupun kegiatan lainnya,” ujarnya.

Ketua panitia nyadran, Wahyu Anggerjito, menerangkan, kegiatan nyadran dilakukan untuk menjaga eksistensi Desa Wisata Nongkosawit. ”Wilayah kami dijadikan desa wisata sebagai penyokong Waduk Jatibarang dan tentunya sebagai kalender event tahunan desa wisata ini,” ungkapnya.

Dijelaskan, gunungan buah dan hasil bumi yang diarak diperebutkan warga sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME. ”Gunungan itu diibaratkan srumbung yang menjaga mata air, jadi bentuk rasa syukurnya dengan mengarak keliling kampung,” katanya. (den/aro/ce1)