Kurnia Hidayati. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
Kurnia Hidayati. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

Meski suka dengan dunia sastra sejak kecil, nama penyair muda asal Kabupaten Batang, Kurnia Hidayati baru mulai dikenal publik. Dia dikenal sejak menjuarai perlombaan puisi di dunia maya seperti facebook pada tahun 2011 lalu.

Merasa karya-karya puisinya disukai dan dihargai oleh banyak pihak, meski hanya di dunia maya, membuat dirinya termotivasi untuk semakin produktif. Bahkan dalam seminggu ada 35 puisi yang dibuatnya. Tapi kali ini tidak dikirimkan pada dunia maya, tapi pada media lokal dan nasional.

“Di dunia maya banyak sekali perlombaan-perlombaan sastra. Mulai dari lomba membuat puisi dan cerpen. Ternyata karya puisi saya menang, meski hadiahnya pulsa Rp 50 ribu rasanya senang, dan ini awal motivasi saya untuk terus berkarya,” ungkap Nia, sapaan akrabnya.
Dia mengatakan bahwa menulis telah digelutinya sejak masih duduk di bangku SMP. Hal itu dibuktikan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu mendapatkan nilai A dan berlanjut saat melanjutkan kuliah di STAIN Pekalongan. Dunia menulis tetap digeluti dan bergabung pada sastra kampus.

Menurutnya, semangat dalam menulis sempat mengalami penurunan kala beberapa tulisannya seringkali ditolak dalam perlombaan yang diadakan oleh media mana pun. Karya puisinya “Setia Tanpa Jendela” akhirnya mengalahkan ratusan puisi lainnya pada salah satu lomba puisi di salah satu media cetak nasional pada tahun 2013. Meski hanya menjadi juara 3, karyanya pun mulai bisa di terima di media massa
“Sejak saat itu, setiap hari kerjaan saya hanya membuat puisi, dan saya kirimkan ke semua media lokal dan nasional, yang ada di Indonesia. Ternyata hampir setiap minggu karya saya selalu ditampilkan, dan kini menjadi sebuah profesi,” kata Nia.

Rencananya akhir tahun ini, dia akan menerbitkan sebuah buku, yang berisi karya-karya puisinya, baik yang sudah terbit di media massa maupun karya terbarunya. Puisi yang bertajuk “Senandika Pemantik Api” akan di launching pada malam tahun baru 2016 nanti.

“Saya akan terus menggeluti dunia sastra, impian saya juga bisa menjamah dunia selain puisi, seperti cerpen bahkan essai. Tapi akhir tahun ini puisi “Senandika Pemantik Api” akan saya launching dalam bentuk buku,” ujar Nia.

Dia juga menyampaikan tipsnya untuk menjadi penulis. Bahwa menulis harus dimulai dari hati, yang diawali akan kesukaan bukan suatu paksaan. “Diawali dari menulis dan menulis terus, dan menulis apa saja, nanti baru akan terbentuk bahwa karya tulisan kita akan seperti apa, entah itu puisi atau cerpen,” terangnya. (thd/ric)