BUTUH KESABARAN: Sebanyak 100 orang kepala bagian dari sebuah perusahaan ternama, belajar membantik menggunakan canting elektrik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
BUTUH KESABARAN: Sebanyak 100 orang kepala bagian dari sebuah perusahaan ternama, belajar membantik menggunakan canting elektrik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Produsen tas dan sepatu dengan motif serbabatik Trasty mengajak 100 kepala bagian dari salah satu perusahaan ternama di Indonesia untuk membatik menggunakan canting elektrik di Hotel Crown Semarang, Rabu (29/4) malam kemarin. Diterapkan pada sebuah kanvas berukuran 15×20 cm yang sudah dipola, kegiatan menjadi sensasi tersendiri bagi peserta.

Owner Trasty, Naneth, mengatakan kegiatan ini untuk nguri-uri salah satu hasil budaya Jawa yakni batik. Dipilih canting elektrik karena alat yang merupakan pengembangan dari canting tradisional ini akan lebih memudahkan para peserta.

Sebelum mulai mencanting, para peserta diberikan pengarahan singkat bagaimana menggunakan canting elektrik oleh Naneth. Diberikan tips dan trik simpel agar malam cair yang akan digunakan untuk membatik tidak mblobor atau terlalu tipis. Sebab, jika kurang pas, nanti akan mengalami kesusahan ketika proses pewarnaan. Tinta yang dioleskan akan mbleber karena daya kapilaritas kain. “Mencanting memang butuh kesabaran, kreativitas dan ulet. Memang kami sudah memberikan pola batik dan peserta tinggal mencantingnya dan mewarnai saja,” ucap Naneth.

Pihaknya mengaku juga ingin mengubah pradigma pencantingan yang hanya dilakukan kaum hawa. Proses membatik kini bisa dilakukan siapa saja dari kalangan mana pun. Selain itu, mencanting tidak terbatas pada tempat produksi. Buktinya, dengan canting elektrik, membatik bisa dilakukan di mana saja. “Kalau sudah sesimpel ini, saya berharap banyak orang yang tertarik membatik. Tidak harus untuk dijual. Kalau punya pola sendiri yang menarik dan dipakai sendiri kan oke juga. Batik sebagai warisan budaya harus terus dijaga agar tetap eksis,” harapnya.

Sementara itu, Salah satu peserta Onny Syaputra mengaku cukup kesulitan saat mencanting. Dia tidak pernah menyangka jika prosesnya butuh konsentrasi tinggi. “Kalau cepat-cepat, malam yang menempel tipis. Kalau pelan-pelan, malah mblobor. Kadang juga cantingnya bumpet karena malamnya tidak segera digunakan,” ungkapnya. (amh/smu)