KOMPAK: Pasangan suami istri, Megan Hewitt-Garna Raditya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Pasangan suami istri, Megan Hewitt-Garna Raditya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Pasangan suami istri, Megan Hewitt-Garna Raditya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Suami istri ini memiliki imajinasi liar dan unik. Keduanya melahirkan karya musik bernuansa apokaliptik yang menggambarkan seseorang bertahan di sebuah pos ronda saat kiamat datang. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

PASANGAN suami istri (pasutri) itu adalah Megan Hewitt dan Garna Raditya (Megan-Garna). Pasangan blasteran Semarang-Amerika ini menyimpan sejuta inspirasi. Berkat besutan tangan dinginnya, lahirlah mini album berisi 8 lagu bertajuk ”Among Others”.

Duo ini tampil dengan nama Antaralain. Sebuah band Indie Folk, yang telah melepas debut mini album single perdana pada Record Store Day di Sakapatat Jalan Diponegoro No 40, Semarang pada 19 April 2015 lalu.

Antaralain memuat lirik-lirik berkisar dari pengalaman budaya lintas negara. Pasangan yang menikah pada 16 Agustus 2014 ini berusaha menangkap fenomena sosial berdasarkan pengalaman keduanya.

Salah satu lagu berjudul Pos Ronda memuat unsur sastra apokaliptik yang liar. Keduanya berusaha menggambarkan ketika seseorang melihat kiamat dan bertahan dalam sebuah tempat kecil yang digambarkan sebagai pos ronda.

”Di lagu itu, kami berusaha menggambarkan, ketika seseorang melihat kiamat dan dia berusaha bertahan di tempat yang sempit (pos ronda),” kata Megan Hewitt saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (30/4) kemarin.

Dikatakan Megan, lagu tersebut sebuah penggambaran ketika di tengah malam yang tampak hidup adalah pos ronda. ”Ia mengawasi dan waspada. Jika kiamat terjadi, mereka lah yang barangkali saksi pertama. Dan menyaksikan bumi hancur. Pos ronda dijadikan analogi sebuah tempat kecil yang tak muluk-muluk,” ujarnya.

Megan Hewitt, wanita berkebangsaan Amerika Serikat ini dalam karya tersebut berperan sebagai vokalis. Sedangkan Garna Raditya sebagai gitaris. Sedikitnya mereka melahirkan sebanyak 8 lagu dalam mini album tersebut. Di antaranya berjudul In The Shadow, Luna, Pos Ronda, Jalan Raya Bahaya, The Orchid Man, Scenes Familiar dan Intro-Outro.

Megan menjelaskan, masing-masing lagu merupakan pengalaman keseharian keduanya. Dengan memadukan dua unsur kebudayaan, yakni Indonesia dan Amerika Serikat.

Dituturkannya, pada lagu berjudul Jalan Raya Bahaya menceritakan tentang pejalan kaki ketika haknya terenggut oleh pengendara motor. Ide di lagu tersebut tak terlepas dari pengalaman Garna saat ia berprofesi sebagai wartawan kriminal di sebuah media cetak ternama di Semarang.

Garna berusaha menggambarkan, betapa horornya hidup di sebuah kota sibuk. Ketika seorang berjalan kaki saja, nyawa bisa melayang. ”Saya merasakan betapa membahayakan jalan raya di sini. Bahkan ketika lampu merah pun masih banyak pengendara motor ataupun mobil menerobos. Begitu juga yang nekat melintasi trotoar di saat macet,” beber Garna.

Hal sederhana yang mengakibatkan nyawa melayang di jalan raya itu dikemas apik melalui lirik berlagu. ”Saya sedih melihatnya. Mereka biasa dengan hal-hal melanggar. Kalau perlu, berani menghadang dan melawan secara fisik. Percuma menunggu polisi menegur. Saya melihat, pejalan kaki belum mendapatkan haknya,” terang pria yang juga gitaris band Grindcore AK//47 ini.

Dijelaskan Garna, pada lagu The Orchid Man, menceritakan tentang seseorang yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat anggrek. Seperti halnya merawat seorang makhluk hidup lainnya agar memberi keseimbangan kepada alam.

”Diibaratkan, manusia perlu untuk memberi kehidupan yang layak kepada tumbuhan, dibandingkan bangunan yang hanya untuk kepentingan tertentu saja. Mengingat area hijau semakin dirampas untuk bangunan hotel, mal hingga lapangan golf,” ungkapnya.

Selain itu, masih banyak lagu lain yang sarat dengan pemikiran lintas persepsi akan budaya timur dan barat.

Dijelaskan Garna, Antaralain sebenarnya telah berdiri sejak 2012 silam. Awal mulanya, ketika Megan melakukan penelitian untuk disertasinya di Indonesia.

Di sela-sela waktu penelitian, ia mulai menulis lagu bersama Garna. Keduanya kemudian mulai menjajaki panggung. Di tengah aktivitasnya yang sibuk, keduanya menyempatkan diri untuk latihan. Megan sendiri harus bolak-balik Berkeley-Semarang, sebelum akhirnya mereka merekam lagu. Bahkan saat terpisah dengan jarak, keduanya tetap latihan dengan cara bertukar file melalui surat elektronik dan latihan menggunakan Skype.

”Paling sedih saat koneksi internet lambat. Latihan jadi berantakan,” timpal Megan.

Antaralain juga sempat menggelar tour kecilnya di California, Amerika Serikat. Rilisan album kali ini berformat cakram padat, diproduksi di bawah naungan Vitus Records. Saat ini keduanya tengah mempersiapkan tour ke berbagai kota di Indonesia. (*/aro/ce1)