CINTA BUDAYA: Sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang tersebut, diserahkan secara simbolis tokoh wayang Prabu Kresna oleh Wali Kota Semarang kepada Dalang Ki Mantheb Sudarsono yang diiringi Gangsaran dan Ayak-Ayak Patalon. (RASE)
CINTA BUDAYA: Sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang tersebut, diserahkan secara simbolis tokoh wayang Prabu Kresna oleh Wali Kota Semarang kepada Dalang Ki Mantheb Sudarsono yang diiringi Gangsaran dan Ayak-Ayak Patalon. (RASE)

BALAI KOTA – Nguri-uri budaya, Kota Semarang menggelar pergelaran wayang kulit guna menyemarakkan hari jadi ke-468 Kota Semarang, Kamis (30/4) di halaman balai kota. Tak tanggung-tanggung, pertunjukan budaya ini mendatangkan dalang kondang Ki Mantheb Sudarsono dengan mengusung lakon ’Wahyu Makhutarama’.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang hadir didampingi istri memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan event budaya ini. Menurutnya, sebuah warisan budaya bangsa perlu dilestarikan dan dipelihara khususnya budaya Jawa di Kota Semarang. ”Pemkot akan terus memberikan dorongan supaya budaya Jawa dapat terus menggelora di Kota Semarang. Dan hal itu diperlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” tuturnya saat memberikan sambutan dalam pergelaran yang dihadiri pula oleh Muspida, dewan kesenian, budayawan, wisatawan asing, dan masyarakat ini.

”Siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan tanah kelahiran Indonesia, kalau bukan kita sendiri,” tandas wali kota.
Hendi, sapaan akrabnya, juga berpesan agar tetap memberikan hal-hal positif dan berguna untuk kota Kota Semarang agar lebih baik. ”Saya sangat bangga semangat membangun kota ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu,” tandas wali kota.

Wali kota menyampaikan dalam rangka HUT ke 468 Kota Semarang, telah dikemas serangkaian kegiatan menarik yang membuat Kota Semarang terkenal karena semua orang memperbincangkan Kota Semarang. Dari mulai Semarang Great Sale program diskon 1 bulan penuh, Dialog Budaya bersama Emha Ainun Najib Kyai Kanjeng dan Noe Letto, Pengajian ”Semarang Bersholawat” dengan Ustad Wijayanto, Festival Layang-Layang, Kenduri Nasional Onthelism, Festival Banjir Kanal Barat, serta karnaval tahunan Semarang Night Carnival.

”Ini semua diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat Kota Semarang karena hari jadi ini milik seluruh warga Kota Semarang,” paparnya. Pementasan wayang kulit ini selain bertujuan untuk nguri-uri atau melestarikan budaya juga mengenalkan pentingnya penanaman nilai luhur yang terkandung dalam cerita pewayangan kepada generasi muda. (zal/ce1)