KEMUDAHAN: Ratusan buruh pabrik PT Semarang Garment di Wujil, Langensari, Ungaran, antri mengambil Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat saat dibagikan oleh manajemen pabrik, sebelum Presiden RI Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke pabrik tersebut. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
KEMUDAHAN: Ratusan buruh pabrik PT Semarang Garment di Wujil, Langensari, Ungaran, antri mengambil Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat saat dibagikan oleh manajemen pabrik, sebelum Presiden RI Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke pabrik tersebut. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
KEMUDAHAN: Ratusan buruh pabrik PT Semarang Garment di Wujil, Langensari, Ungaran, antri mengambil Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat saat dibagikan oleh manajemen pabrik, sebelum Presiden RI Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke pabrik tersebut. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa saat ini buruh menghadapi empat persoalan mendasar terkait kesejahteraan dan taraf hidupnya. Yakni masalah pendidikan anak-anak buruh, kesehatan keluarga buruh, akomodasi dan transportasi. Jika empat hal ini tersebut sudah terpenuhi, maka hubungan industrial buruh dengan pengusaha akan harmonis.

“Kalau sudah ada KIP (kartu Indonesia pintar) dan KIS (kartu Indonesia sehat) maka masalah pendidikan dan kesehatan sudah dapat teratasi. Sedangkan untuk masalah akomodasi dan transportasi, mudah-mudahan dengan program satu juta rumah menjadi solusi menyelesaikan permasalahan tersebut,” ungkap Gubernur, kemarin di Ungaran.

Gubernur merinci di provinsi Jawa Tengah ada 22.403 perusahaan dengan jumlah pekerja mencapai 1.249.434 orang. Sedangkan serikat pekerja ada 1.432 kelompok, dengan jumlah anggota 404.711 orang. Sedangkan forum komunikasi serikat pekerja nasional sebanyak 70 unit serikat kerja dan serikat buruh, dengan jumlah anggota sebanyak 50.958 orang. Gubernur berharap ada hubungan harmonis antara buruh dengan pengusaha.

“Untuk itu pada peringatan May Day paling tidak digelar kegiatan yang bersifat edukatif dan rekreatif seperti bazaar, diskon belanja dan sebagainya. Pokoknya hari itu buruh betul-betul menikmati, satu hari itu buruh diperlakukan seperti raja,” tutur Ganjar.

Sementara itu Kabag Ops Polres Semarang Kompol Dax Emmanuelle Samson Manuputy, menyampaikan bahwa hingga hari ini tidak ada laporan atau pemberitahuan yang masuk ke Polres Semarang untuk menggelar aksi di jalanan untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), Jumat (1/5) hari ini. Kompol Dax memastikan tidak ada aksi masa dari kalangan buruh yang turun ke jalan di Kabupaten Semarang. Sebab May Day tahun ini sebagian besar kegiatan difokuskan di Jakarta dan Kota Semarang.

“Informasinya May Day dilaksanakan dengan menggelar kegiatan sosial secara internal di masing-masing perusahaan. Tetapi kami tetap siap siaga dan terus memantau setiap kegiatan,” ungkap Kompol Dax, Kamis (30/4) kemarin.

Ketua DPD Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (FKSPN) Kabupaten Semarang Sumanta menyatakan, tidak ada massa dari buruh yang turun ke jalan-jalan Kabupaten Semarang. Sebab pengerahan massa buruh dipusatkan di DKI Jakarta dan Kota Semarang. Perwakilan FKSPN Kabupaten Semarang berangkat ke Jakarta, Kamis (30/4) pukul 17.00 lalu.

“Dari lima Kabupaten/Kota di Jateng seperti Karanganyar, Pekalongan, Magelang, Kabupaten dan Kota Semarang mengirimkan perwakilannya untuk aksi di Jakarta sebanyak 250 buruh,” kata Sumanta.

Tuntutan yang akan disampaikan yakni penghapusan Undang-Undang BPJS Kesehatan, menolak upah murah, penghapusan sistem outsorching serta penegakkan hukum ketenagakerjaan dan turunkan harga kebutuhan pokok. “Semoga aksi May Day tahun ini, keinginan buruh tersebut dapat terwujud,” pungkasnya. (tyo)