12.196 Polisi Amankan May Day

115

MUGASSARI – Sedikitnya 10 ribu buruh hari ini (1/5) bakal mengepung kantor Gubernur Jateng di Jalan Pahlawan, Semarang. Para buruh turun ke jalan untuk memperingati Hari Buruh Sedunia atau May Day setiap tanggal 1 Mei. Untuk pengamanan aksi masal tersebut, aparat kepolisian akan all out dalam melakukan penjagaan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin, mengatakan, pihaknya akan mengerahkan semua anggota di jajaran Polrestabes Semarang untuk pengamanan peringatan Hari Buruh di Kota Semarang. Sedikitnya 1.200 personel akan disiagakan dalam rangka pengamanan tersebut. Petugas akan ditempatkan di sejumlah titik rawan seperti bundaran Tugu Muda dan Jalan Pahlawan.

”Hari buruh all out. 1.200 personel di polrestabes akan dikerahkan. Harapannya agar para buruh dapat menyampaikan aspirasinya dengan aman,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Kamis (30/4).

Dia memperkirakan, peringatan Hari Buruh di Kota Semarang akan terpusat di Jalan Pahlawan. Pihaknya memprediksi sebanyak 10 ribu buruh akan tumpah ruah di sekitar kantor gubernuran. ”Aksi akan terpusat di Jalan Pahlawan, perkiraannya 10 ribu buruh di sana. Kami siap untuk melakukan pengamanan,” ungkapnya.

Peringatan Hari Buruh ini tidak hanya digelar di Kota Semarang. Tapi juga di kota-kota lain di Jateng. Karena itu, aparat Polda Jateng akan mengerahkan sedikitnya 12.196 personel untuk mengamankan berbagai kegiatan peringatan Hari Buruh tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jateng, Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto, mengatakan, jumlah tersebut berasal dari masing-masing kesatuan wilayah. Personel di Polda Jateng yang disiagakan sekitar 878 personel.

”Dari Mapolda 878 personel, itu untuk mem-backup. Untuk kekuatan pengamanan di masing-masing wilayah berbeda-beda tergantung dengan tingkat kerawanan,” katanya.

Liliek memaparkan, seluruh polres di jajaran Polda Jateng juga sudah menyusun rencana pengamanan peringatan Hari Buruh. Hal itu menyusul surat edaran yang dikeluarkan oleh Kapolri Komjen Badrodin Haiti terkait Hari Buruh tersebut. Dalam surat edaran tersebut, kapolri memerintahkan semua personel untuk tetap siaga pada 1 Mei. Meskipun pada hari itu merupakan hari libur nasional.

”Intinya tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Khusunya pada peringatan hari buruh nanti. Kami siap untuk pengamanan dan pelayanan tersebut,” tegasnya.

Selain itu, Liliek juga mengimbau kepada para buruh untuk tidak melakukan sweeping ke pabrik-pabrik. Sebab hal itu di luar ketentuan dan polisi akan menindak tegas seandainya hal itu terjadi. ”Kami imbau agar aksi nanti tidak mengganggu tempat-tempat strategis. Misalnya, jangan sampai mengganggu kelancaran lalu lintas di jalur Pantura,” katanya.

Sembilan Tuntutan
Terpisah, Sekretaris Gerakan Buruh Berjuang (Gerbang) Nanang Setyono mengatakan, tidak kurang dari 10 ribu buruh dari Kota Semarang akan memadati Jalan Pahlawan. Mereka rencananya akan bertemu di titik kumpul sekitar pukul 07.00 dan selanjutnya bergerak menuju Kantor Gubernur Jateng. ”Aksi akan dimulai sekitar pukul 08.00,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nanang menambahkan, dalam aksinya nanti para buruh akan menyuarakan sembilan tuntutan. Di antaranya, menolak upah murah serta penghapusan sistem kerja kontrak atau outsourcing.

Selain itu, mereka juga minta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk merevisi Peraturan Gubernur tentang Kebutuhan Hidup Layak (KHL). ”Kami juga akan menyuarakan agar teman-teman (buruh) melawan pemberangusan serikat buruh,” ujarnya.

Tuntutan lainnya, sambung Nanang adalah meminta pemerintah menegakkan hukum di bidang ketenagakerjaan. Selain itu memberikan hak dan perlindungan bagi buruh rumahan, menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) serta kebutuhan pokok, dan membubarkan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). ”Yang terakhir, kami menolak pembangunan Rusunawa dengan menggunakan dana buruh di BPJS,” tandasnya.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Jateng Slamet Kaswanto menambahkan, pada 1 Mei ini pihaknya juga akan melakukan aksi yang dipusatkan di gubernuran. Rencananya ia juga menyediakan panggung untuk melakukan orasi. ”Selain di Semarang, kami juga mengirim perwakilan ke Jakarta,” terangnya.

Salah satu yang diusung oleh Slamet adalah penolakan terhadap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hal itu dikarenakan beban iuran dalam membayar BPJS Kesehatan relatif tinggi. Menurutnya, saat masih menjadi Jamsostek, beban sakit yang diderita oleh pekerja sudah ditanggung oleh perusahaan.

”Sejak awal adanya BPJS Kesehatan, kami sudah menolak hal tersebut. Pelaksanaan sistem BPJS Kesehatan rupanya tak berpihak pada buruh lantaran sistem tersebut memberatkan dengan membayar iuran yang dirasa tak bermanfaat maksimal,” bebernya.

Dari beberapa kasus yang didapatkan, lanjut Slamet, pelayanan kesehatan untuk buruh dengan kasus ibu melahirkan sangat memberatkan sebab bayi yang dilahirkan tidak ter-cover oleh layanan BPJS Kesehatan. Hal itulah yang kemudian memberikan banyak beban kepada buruh untuk menanggung biaya kesehatan yang terjadi di luar kecelakaan kerja. ”Padahal siapa pun tidak menginginkan sakit, atau mengalami kecelakaan kerja,” tandasnya. (amu/fai/aro/ce1)