Mantan Istri Bos Gudang Garam Tempuh Kasasi

648
NOSTALGIA: Aida Noplie Chandra menunjukkan foto-foto buah hatinya, Ritchie Anderson Tjhin, dalam sebuah album. (Joko Susanto / Jawa Pos Radar Semarang)
NOSTALGIA: Aida Noplie Chandra menunjukkan foto-foto buah hatinya, Ritchie Anderson Tjhin, dalam sebuah album. (Joko Susanto / Jawa Pos Radar Semarang)
NOSTALGIA: Aida Noplie Chandra menunjukkan foto-foto buah hatinya, Ritchie Anderson Tjhin, dalam sebuah album. (Joko Susanto / Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Sidang kasus perceraian petinggi PT Gudang Garam, Andy Setyawan dengan mantan istrinya, Aida Noplie Chandra menuju babak baru, yakni perebutan hak asuh anak.

Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Semarang yang diketuai, Fathurrahman dengan Nomor putusan 445/PDT/2014/PT.SMG memutuskan hak asuh anak diberikan kepada pihak Andy Setyawan. Dengan adanya putusan itu, Aida langsung tempuh upaya kasasi.

Kuasa hukum Aida, Wahyu Rudi Indarto mengatakan, pihaknya segera menempuh upaya hukum terkait sengketa tersebut. Ia juga menginginkan surat pernyataan Grapholog yang diterbitkan Heni E Wiryawan dicabut karena keterangannya soal ketidakcakapan Aida palsu. ”Kami nilai keterangan saudari Heni itu palsu karena pada saat dibuat, tidak bertemu dengan Aida dan Ritchie. Padahal sebagai seorang ahli, harusnya ada pertemuan dulu sehingga keabsahan keterangannya bisa diperhitungkan,” ujar Wahyu Rudi Indarto.

Wahyu juga kecewa atas putusan banding dari PT. Dia menilai majelis hakim tidak mempertimbangkan keterangan Kak Seto dari KPAI. ”Saat ini, klien kami (Aida Noplie) masih berusaha menempuh upaya kasasi untuk merebut hak asuhnya atas Ritchie Anderson Tjhin, buah hati Aida dengan mantan suaminya, Andy Setyawan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Aris Merdeka Sirait mempertanyakan perbedaan putusan tersebut. Ia menyebutkan pada persidangan tingkat pertama di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik, memutuskan bahwa hak asuh anak dimiliki oleh kedua belah pihak. ”Anehnya, dalam proses sidang tersebut, keterangan ahli yang merupakan Grapholog digunakan sebagai dasar untuk menentukan vonis. Di persidangan ahli menyatakan bahwa ibu Aida dinilai tidak cakap dalam mengurus anak. Kalau saya melihat ini sudah mengganggu hak anak untuk memperoleh haknya, dalam hal ini cinta dan kasih sayang dalam masa pertumbuhannya,” ujar Aris, Rabu (29/4).

Aris menyebutkan, atas permasalahan itu pihaknya akan melakukan mediasi untuk kedua belah pihak supaya timbul pengertian soal hak anak. Ia menjelaskan kaitan dengan hak anak itu tercantum dalam pasal 14 dan 26 Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. ”Kalau ada upaya menghalang-halangi Aida untuk bertemu dengan anaknya, maka bisa kena Pasal 77 UU 35/2014. Dan itu bisa dipidanakan maksimal 5 tahun,” sebutnya.

Seperti diketahui, pada sidang tingkat pertama sudah diputuskan di Pengadilan Negeri Semarang dengan Nomor 378/PDT/G/2013/PN.SMG bahwa hak asuh anak diberikan kepada kedua orang tuanya. Namun dalam perkembangannya, pihak Andy Setyawan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Semarang. (bj/zal/ce1)