DITELANTARKAN: Anjasmara memangku Aril Budi Setiawan, bocah 3,5 tahun yang ditelantarkan dan ditinggalkan ibunya selama 1,5 bulan, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITELANTARKAN: Anjasmara memangku Aril Budi Setiawan, bocah 3,5 tahun yang ditelantarkan dan ditinggalkan ibunya selama 1,5 bulan, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DITELANTARKAN: Anjasmara memangku Aril Budi Setiawan, bocah 3,5 tahun yang ditelantarkan dan ditinggalkan ibunya selama 1,5 bulan, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL – Sungguh malang nasib yang dialami Aril Budi Setiawan. Bocah 3,5 tahun ini diketahui ditelantarkan ibu kandungnya sendiri. Bocah malang itupun sekarang dirawat Anjasmara, 38, dan istrinya Sonia, 33, warga dukuh Jetis, Desa Plantaran, Rt 05 Rw 06, Kecamatan Kaliwungu.

Anjasmara mengatakan, Aril sudah dalam perawatannya sejak 1 bulan lamanya. Ia sekarang mengaku kerepotan dan hendak menyerahkan bocah malang itu ke Dinas Sosial lantaran sudah tidak sanggup merawat sang bocah.

Awalnya ada seorang ibu yang mengaku bernama Yanti datang ke rumah tetangganya sekitar satu bulan lalu. Perempuan itu bermaksud menitipkan sang anaknya karena kerepotan merawat lantaran hidup menjanda. Anjasmara dan istrinya sendiri mangaku tidak mengenal Yanti.
Yanti mengaku orang Jawa Timur, hanya menitipkan saja dan nantinya akan diambil lagi setelah dapat uang. “Tapi tetangga saya tidak mau dan tidak sanggup. Tapi ibu bocah ini nangis-nangis dan memohon, karena saya dan istri saya kasihan pada anak ini, akhirnya kami bantu merawatkan anaknya,” katanya, kemarin.

Sebelum pergi, Yanti berjanji akan mengambil anaknya kembali jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ia mengaku sudah bilang Yanti, jika ia hanya membantu merawat saja. “Jika nanti ada apa-apa maka dia (Yanti) harus datang dan menjemput anaknya,” imbuhnya.

Saat menitipkan, Yanti sama sekali tidak memberikan uang makan atau imbalan sepeserpun kepadanya dan istrinya. Justru, Yanti sebelum pergi meminta uang saku kepada Anjasmara sebesar Rp 300 ribu. “Bocah ini ditinggal bersama bekal baju ganti yang dibungkus dalam dua kardus serta akta kelahiran,” tambahnya.

Anjasmara saat itu percaya, karena ia berpikir tidak mungkin ada orang tua tega meninggalkan anaknya. Yanti pun juga meninggalkan dua nomor telepon seluler (HP) kepada Anjasmara agar sewaktu-waktu dapat dihubungi. Setelah beberapa hari dirawat, Anjasmara dan istrinya bermaksud untuk mengembalikan Aril kepada ibunya. “Saya sms dan telepon, jawabannya nanti akan dijemput. Nunggu ia dapat uang dulu,” tambahnya.

Dua minggu berlalu, ia kembali menghubungi Yanti melalui SMS dengan maksud untuk meminta agar anaknya Aril segera dijemput. Karena rumah tangganya kerap terjadi pertengkaran, terutama ibu mertuanya yang tidak senang dengan kehadiran Aril. “Tapi jawabannya malah ia sudah enggan merawat anaknya lagi. Ia justru memasrahkannya kepada kami dan bilang terserah mau diapakan anakny itu. mau dirawat sendiri atau diserahkan ke panti asuhan,” kata istri Anjasmara, Sonia, 33.

Akhirnya Sonia dan suaminya mendatangi tiga panti asuhan di Kaliwungu. Tapi ditolak alasannya, panti asuhan karena umurnya dibawah lima tahun. “Katanya panti asuhan hanya bisa menerima jika anak sudah berumur lima tahun dan atas persetujuan orang tuanya sendiri,” tuturnya.

Kini ia berharap ada orang yang mau merawat dan mengadopsi aril. Ia dan suaminya sudah tidak sanggup merawat lantaran hanya berpenghasilan pas-pasan dari hasil jualan warung makan nasi rames. “Jika tidak ada yang mau mengadopsi kami berencana akan menyerahkan pada dinas sosial,” tambahnya. (bud/fth)