DITAHAN: Puluhan WNA yang digerebek dari rumah mewah di Jalan Merapi No 18, Selasa (28/4) malam lalu. (JPNN)
DITAHAN: Puluhan WNA yang digerebek dari rumah mewah di Jalan Merapi No 18, Selasa (28/4) malam lalu. (JPNN)
DITAHAN: Puluhan WNA yang digerebek dari rumah mewah di Jalan Merapi No 18, Selasa (28/4) malam lalu. (JPNN)

BARUSARI – Sebanyak 40 warga negara asing (WNA) asal Tiongkok dan Taiwan yang digerebek dari sebuah rumah mewah di Jalan Merapi No 18, Gajahmungkur, Semarang, Selasa (28/4) malam lalu, diserahkan ke pihak Imigrasi. Penyerahan dilakukan setelah mereka didata dan diperiksa ulang oleh aparat Reskrim Polrestabes Semarang.

Menurut Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kota Semarang, Albert S Venat, puluhan WNA tersebut nantinya akan ditampung sementara waktu di Kantor Imigrasi Semarang. Hal itu dilakukan sambil menunggu proses selanjutnya. Penampungan tersebut dilakukan selama 30 hari ke depan. ”Akan kami tampung dulu, lalu dilakukan proses dan menghubungi kedutaan negara yang bersangkutan,” katanya.

Terkait izin masuk ke Indonesia, kata dia, puluhan WNA tersebut masuk secara legal dan sesuai ketentuan. Puluhan WNA tersebut tercatat mempunyai izin tinggal hingga 2 bulan ke depan. ”Kami juga menunggu rekomendasi polisi untuk disampaikan ke kedutaan besar masing-masing WNA,” ujarnya.

Sementara itu, hingga Rabu (29/4) petang, aparat kepolisian masih terus melakukan penggeledahan di dalam rumah tersebut. Hasilnya, polisi menemukan barang bukti berupa puluhan telepon, puluhan rooter wifi, satu pemancar, beberapa laptop, dan sejumlah handphone yang sengaja dirusak dan masih utuh.

”Kami masih kembangkan. Ini kami lakukan pemeriksaan di lokasi. Hasilnya kami temukan antena pemancar. Antena itu digunakan untuk langsung menghubungkan ke satelit dan memancarkan gelombang atau jaringan internet ke negara tujuan,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto, Rabu (29/4).

Selain itu, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap empat orang terkait keberadaan puluhan warga asing tersebut. Polisi juga melakukan pendataan terhadap puluhan warga asing tersebut sebelum akhirnya diserahkan ke kantor imigrasi. ”Kami juga koordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri, kemudian kepolisian negara asal WNA tersebut, juga dengan kedutaan negara masing-masing,” jelas Sugiarto.

Koordinasi tersebut diperlukan lantaran aksi kejahatan tersebut dilakukan di negara asal WNA. Semarang hanya dijadikan tempat persembunyian guna memuluskan aksi tersebut. ”Modusnya tadi, menelepon ke nomor acak, terus meminjam atau utang uang. Alasan lainnya dengan memelas meminta uang karena kena musibah,” tuturnya.

Informasi lain menyebutkan, puluhan WNA tersebut beraksi atas suruhan seseorang. Atas pekerjaan itu mereka mendapatkan imbalan Rp 30 juta hingga Rp 40 juta.

Seperti diberitakan sebelumnya, 40 WNA asal Tiongkok dan Taiwan itu diduga melakukan praktik penipuan lintas negara. Praktik tersebut dilakukan di sebuah rumah yang berada di Jalan Merapi No 18, Gajahmungkur, Semarang. Dugaan tersebut mencuat setelah aparat Polrestabes Semarang melakukan penggerebekan di rumah mewah tersebut pada Selasa (28/4) malam.

Dari penggerebekan tersebut, polisi mendapati puluhan WNA sedang berinteraksi menggunakan alat komuniksi di sebuah ruang kedap suara, serta beberapa boks yang juga kedap suara.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin, mengatakan, penggerebekan tersebut dilakukan berawal dari laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas di dalam rumah itu. Kemudian pihaknya langsung merespons dengan melakukan penyelidikan.

”Waktu digerebek ada 19 warga negara Tiongkok dan 21 warga negara Taiwan. Jumlah penghuni rumah ada 40 orang, terdiri atas 29 laki-laki dan 11 wanita. Mereka datang ke sini dengan menggunakan visa kunjungan wisata dan on arrival,” katanya kemarin.

Dugaan sementara puluhan WNA tersebut melakukan penipuan dengan target negara masing-masing. Modusnya menelepon korban dengan nomor acak dan korban disuruh mentransfer uang. Adapun praktik tersebut dilakukan dari rumah tersebut dengan alat komunikasi dan jaringan internet. Atas dugaan tersebut, penyidik terus melakukan penyelidikan. Puluhan WNA tersebut ditahan di dalam rumah dan dimintai keterangan dengan bantuan penerjemah. (har/jpnn/aro/ce1)