SIDANG : Oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang, Waryono, didampingi kuasa hukumnya jalani persidangan, di PN Pekalongan, Selasa (28/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG : Oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang, Waryono, didampingi kuasa hukumnya jalani persidangan, di PN Pekalongan, Selasa (28/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG : Oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang, Waryono, didampingi kuasa hukumnya jalani persidangan, di PN Pekalongan, Selasa (28/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Oknum guru agama di SD Negeri Kandang Panjang, Waryono, 40, yang menjadi pesakitan lantaran kasus pelemparan sepatu kepada muridnya, Agus, 8, tak mengajukan keberatan atau eksepsi. Kepastian tersebut diberikan saat sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Selasa (28/4) kemarin.

Dalam sidang kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Maziyah menyampaikan kronologis pelemparan sepatu. Kejadian pada 20 Februari 2015 sekitar pukul 08.00 tersebut, terjadi di ruang kelas 2 A, SD Kandang Panjang 10 Pekalongan Utara.

Semula korban berbuat gaduh saat pelajaran berlangsung di kelas. Yaitu dengan memukul-mukul meja. Melihat hal tersebut, tersangka emosi dan mengingatkan korban. Lalu mengambil sepatu kanan, dengan tangan kiri dan dilemparkan dengan tangan kanan ke korban. “Karena pelemparan sepatu tersebut, korban Agus sesuai dengan visum dokter di RS Budi Rahayu mengalami luka memar di pipi, kepala dan dahi,” ucap JPU Maziyah.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 80 Ayat 1 UU nomor 35 tahun 2014 junto UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman selama 3 tahun 6 bulan.

Atas dakwan yang disampaikan, terdakwa secara lisan dimintai keterangan oleh majelis hakim yang diketahui Wahyu Iswari, Waryono menyatakan tidak keberatan dan tidak mengajukan eksepsi. Sikap Waryono tersebut setelah berkonsultasi dengan penasehat hukum dari PGRI Wahyu Widodo dan Tulis Wijoretno.

Dengan adanya fakta tersebut, majelis hakim akan melanjutkan sidang pemeriksaan saksi-saksi. Namun karena saksi belum bisa dihadirkan, sidang kembali ditunda pada seminggu lagi Selasa (5/5).

Sedangkan tersangka, kata JPU Maziyah, sengaja tidak ditahan karena tuntutannya di bawah 5 tahun. “Karena menurut pasal 21 KUHAP, bagi tersangka dengan ancaman huuman di bawah lima tahun tidak perlu dilakukan penahanan,” jelas dia.

Sementara itu, terdakwa Waryono menolak memberikan komentar. Begitu sidang selesai, langsung pergi ke dalam kendaraannya. Penasehat hukum tersangka dari PGRI, Wahyu Widodo mengcapkan bahwa dalam perkara tersebut masih dilematis. “Perkara ini membingungkan. Sebenarnya masih dalam koridor belajar mengajar. Karena berbenturan dengan hukum, jadi dilematis,” ucapnya pasca sidang.

Pihaknya menunggu saja. Hal itu bisa menjadi pembelajaran bagi terdakwa dan semua guru. Namun ke depan, masyarakat bisa membedakan antara mendidik dan berbuat tidak baik. “Sebenarnya pelaku sudah meminta maaf secara baik-baik kepada keluarga korban,” bebernya.

Seperti diketahui Waryono, Jumat (20/2) dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Pekalongan Kota. Lantaran telah melakukan kekerasan terhadap anak didiknya Agus Mulyono, 8, siswa kelas 2 SDN Kandang Panjang 10, dengan melempar sepatu hingga korban mengalami luka bengkak di bagian bawah mata sebelah kiri. Kejadian tersebut bermula ketika sedang berlangsung pelajaran agama Islam yang diampu oleh Waryono. Namun saat itu kondisi kelas gaduh karena ditinggal sebentar oleh Waryono.

Begitu Waryono masuk dan melihat kegaduhan, langsung melemparkan sepatunya dan mengenai wajah Agus. “Saat itu Agus sedang bermain bareng teman-temannya di dalam kelas,” ungkap YG, salah seorang teman sekelas korban, Sabtu (21/2) pagi.

Sang korban, Agus, menuturkan hal yang sama. Seperti yang ia tuturkan didampingi orangtua dan kakaknya ketika mendatangi Unit PPA Satreskrim Polres Pekalongan untuk melaporkan kasus tersebut pada Jumat (20/2) siang. “Di kelas saya masih main boyo-boyoan dengan teman. Terus dilempar sepatu sama Pak War (pelaku, red),” tuturnya. (han/ida)