Gubernur Tertarik dengan 3 Konsep yang Ditawarkan

196
SRIKANDI PEMPROV: Dyah Lukisari yang kini menjabat Kepala Biro Umum Setda Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SRIKANDI PEMPROV: Dyah Lukisari yang kini menjabat Kepala Biro Umum Setda Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SRIKANDI PEMPROV: Dyah Lukisari yang kini menjabat Kepala Biro Umum Setda Jateng. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dyah Lukisari beberapa hari lalu dilantik menjadi Kepala Biro Umum Setda Jateng. Sebelumnya, dia adalah Kepala Bidang Pengelolaan Hasil Perkebunan (PHP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. Siapa dia?

AHMAD FAISHOL

NAMA lengkapnya Ir Dyah Lukisari MSi. Namun ia akrab disapa Bu Dyah. Hampir semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Pemprov Jateng sangat mengenalnya. Jawaban yang diterima saat ditanya terkait kepribadiannya selalu sama: Bu Dyah orangnya baik dan pintar.

Benar saja, hal yang sama juga dirasakan koran ini saat berkesempatan untuk menemuinya usai dilantik sebagai Kepala Biro Umum Setda Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang beberapa hari lalu. Meskipun baru kali pertama bertemu, dengan mudahnya ia langsung menunjukkan sikap ramahnya bak kawan lama.

”Saya dulu juga pernah ditempatkan di Biro Humas selama kurang lebih 1,5 tahun. Sehingga tidak asing dengan kawan-kawan media. Sebelumnya pernah di Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) 15 tahun, Biro Bangda (Pembangunan Daerah) 5 tahun dan di Disbun (Dinas Perkebunan) hingga saat ini,” ungkapnya membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Semarang.

Dyah menceritakan, mengawali karir sebagai PNS sejak 1992. Berbagai jabatan telah diemban perempuan kelahiran Kebumen, 16 Oktober 1966 ini. Di samping menjalani pekerjaan sehari-hari, ia juga kerap menulis sejumlah artikel di media massa.

Alumnus jurusan Budi Daya Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Jurusan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini sukses menembus seleksi lelang jabatan, mengalahkan 25 peserta lainnya. ”Sebenarnya tidak mudah karena harus melewati banyak tahapan dan membutuhkan konsentrasi yang penuh. Selain membuat paper tentang gagasan kita, juga harus melewati uji gagasan tertulis dan uji rekam jejak melibatkan lingkungan sekitar,” ujar ibu tiga anak: Andika, Kanaya, dan Demira ini.

Dyah mengaku, baru mengetahui masuk tiga besar setelah Selasa (21/4) lalu dipanggil Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk dilakukan tes wawancara. Setelah itu, ia mengaku tidak mengetahui lagi informasi selanjutnya, hingga akhirnya diminta datang dalam acara pelantikan.

”Sampai pagi hari (pada hari pelantikan, Red) saya juga masih belum yakin. Sehingga tidak langsung meminta suami datang. Setelah mendapat informasi yang hampir pasti, akhirnya saya minta ke sini,” imbuh istri dari Oni Nugroho ini.

Terkait hal apa yang ditawarkan sehingga Gubernur Jateng akhirnya memilihnya, Dyah mengaku ada tiga hal yang diajukan. Pertama, perencanaan anggaran yang klop sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, menjadikan protokoler tidak hanya menjadi domain Biro Umum, tetapi juga melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya.

”Yang ketiga, saya ingin menjadikan layanan peminjaman dapat di-online-kan layaknya sebuah hotel dengan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan,” bebernya mengaku jika semua itu dilakukan dapat menjadi upaya antisipasi agar pengadaan barang tidak rawan terjadi penyelewengan.

Perempuan yang kini tinggal di Sampangan Semarang ini mengaku akan segera melakukan analisis kebutuhan Pemprov Jateng pada tahun berikutnya. Selain itu, juga mengamati kebijakan gubernur dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mendekatkan perencanaan sesuai kebutuhan. ”Misalnya mendekati bulan Mei akan ada demo buruh. Ini semua harus dipersiapkan,” tandas perempuan pertama yang menjabat Kabiro Umum Setda Jateng ini. (*/aro/ce1)