Ganjar Blejeti Staf Presiden Gadungan

183
BARANG BUKTI: Ketua majelis hakim PN Semarang, Winarno, menunjukkan barang bukti seragam, pin, topi, dan ID card milik terdakwa kepada saksi Gubernur Ganjar Pranowo. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Ketua majelis hakim PN Semarang, Winarno, menunjukkan barang bukti seragam, pin, topi, dan ID card milik terdakwa kepada saksi Gubernur Ganjar Pranowo. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Ketua majelis hakim PN Semarang, Winarno, menunjukkan barang bukti seragam, pin, topi, dan ID card milik terdakwa kepada saksi Gubernur Ganjar Pranowo. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KRAPYAK – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo kemarin (27/4) dihadirkan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Ia menjadi saksi kasus dugaan pemalsuan dokumen oleh terdakwa Ir Supardi, yang mengaku sebagai Staf Khusus Presiden Jokowi. Ganjar datang dengan mengenakan seragam dinas warna cokelat. Ia tampak rileks namun serius saat memberi kesaksian di hadapan majelis hakim yang diketuai Winarno. Selain Ganjar, juga diperiksa Kepala Tata Usaha Provinsi Jateng, Hanung CS dan Staf TU, Bambang Heru.

Dalam kesaksiannya, Ganjar memblejeti aksi percobaan penipuan yang dilakukan Ir Supardi. Ia mengaku bertemu terdakwa pada 27 Januari 2015. Sebelumnya, Ganjar sempat melihat melalui CCTV dan bertanya ke stafnya, yang datang siapa?

”Waktu itu, saya langsung keluar dari ruang kerja, dan berjalan untuk mengikuti kegiatan rapat. Saya juga menyempatkan diri bertemu dengan tiga orang tersebut, termasuk Ir Supardi yang sebelumnya berada di ruang tunggu,” kata Ganjar dalam kesaksiannya.

Ganjar mengisahkan, awal pertemuan dengan terdakwa, ia langsung mengamati penampilan Ir Supardi dan dua temannya. Ganjar sempat melihat ada berbagai atribut digunakan Ir Supardi. Namun ia mulai curiga ketika melihat ID card istana kepresidenan yang menggantung di baju safari Ir Supardi.

”Saya tanya (terdakwa) Anda dari mana? Dijawab dari staf khusus Kepresidenan Republik Indonesia. Jawabannya sangat meyakinkan. Alasan ketemu saya, katanya ada monitoring sebelum kedatangan presiden. Karena ada ID Card istana kepresidenan, saya mulai aneh. Jadi, saya menduga-duga pasti ada sesuatu tidak beres,” jelas Ganjar.

Dari sepengetahuan Ganjar, di Istana Presiden, Jokowi tidak ada staf khusus presiden, sehingga kecurigaannya makin menguat. Ganjar langsung meminta Supardi memperlihatkan surat tugas. ”Satu per satu saya tanya identitas mereka dan difoto. Saya juga meminta Supardi menghubungi orang yang tanda tangan di surat tugasnya. Saya minta telepon langsung yang tanda tangan, tapi katanya tidak bisa,” ungkapnya.

Ganjar mengaku lebih kaget ketika bertanya ke salah satu teman Ir Supardi. Karena pria bernama Rizal tersebut mengaku dari KPK. ”Setelah saya desak dan saya bilang, pasti bohong ya, akhirnya mereka panik dan ternyata terbongkar KPK yang dimaksud adalah LSM Komite Penegak Keadilan. Saya sangat terkejut, belum lagi satu di antaranya menyebutkan sebagai sopir,” ujar Ganjar sambil tersenyum.

Setelah yakin ketiga orang tersebut hendak melakukan penipuan, Ganjar akhirnya memanggil polisi. ”Saat itu, saya bilang bapak sudah makan belum? Kalau belum silakan makan dan tunggu polisi. Yang dua agak panik. Tetapi Supardi tetap tenang,” akunya.

Mendengar kesaksian Ganjar, Winarno kemudian mengonfirmasi kepada terdakwa Ir Supardi terkait keterangan Ganjar. Dalam keterangannya, Ir Supardi memprotes sedikit kesaksian Ganjar jika dirinya tidak sempat makan seperti yang disampaikan Ganjar Pranowo di persidangan. ”Kalau diberi makan belum Pak Hakim,” ucapnya yang disambut tawa pengunjung sidang.

Ganjar menyatakan, ia membongkar aksi penipuan Ir Supardi sebagai bentuk antisipasi agar tidak ada yang termakan tipuan yang bersangkutan. ”Saya khawatir, kalau tidak saya hentikan, yang ditemui berikutnya akan rugi,” katanya yang kemarin sempat menyalami terdakwa Ir Supardi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) kemarin sempat menunjukkan barang bukti berupa seragam, berbagai atribut mulai pin, topi, dan ID Card. Jaksa juga menunjukkan airsoft gun. JPU mengatakan, dari pemeriksaan terdakwa, diketahui aksi penipuan sudah pernah dilakukan di Jambi dan menelan korban.

Hakim ketua, Winarno, mengapresiasi kehadiran Ganjar dalam persidangan. Ia menilai kadang dalam persidangan ada pejabat pemerintah diminta hadir dalam persidangan, namun banyak alasan. ”Ini fakta, ini (kedatangan gubernur) bisa jadi contoh,” kata Winarno. Terdakwa Supardi dijerat pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat pada dakwaan pertama, dan pasal 228 tentang penipuan pada dakwaan kedua. (bj/aro/ce1)