DEMAK – Suhu politik di Demak jelang pilkada desember mendatang semakin memanas. Tidak hanya calon dari parpol, calon dari independen sudah mulai tidak malu-malu untuk menyatakan diri meramaikan pilkada. Salah satunya adalah Sugiyanto, S.Kom, warga Desa Wedung, Kecamatan Wedung. PNS di Balai Penginderaan Jauh Satelit Lingkungan dan Cuaca pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Jakarta ini secara terang-terangan bakal maju dalam pilkada Demak. Ia merupakan sosok yang mahir dalam dunia tekhnologi.

“Kalau kita berjuang untuk kesejahteraan keluarga itu sudah biasa. Tapi bagaimana agar ilmu ini bermanfaat, maka saya harus mengabdikan diri pada masyarakat di daerah saya, Demak. Karena itu, saya pun siap maju dalam pilkada Demak melalui jalur independen,” kata Sugiyanto, kemarin.

Ia menambahkan, masyarakat Demak harus bersatu dan bangkit untuk meriah cita-cita sebagai daerah yang maju dan sejahtera. Dirinya bercita-cita mendorong setiap desa dapat mandiri dan terlepas dari belenggu kemiskinan. Ia pun ingin mendirikan sentra-sentra ekonomi sesuai potensi wilayah desa dan kecamatan masing-masing. “Saya serius betul untuk ikut pilkada Demak ini,” imbuhnya yang kental dengan filsafat hidup sederhana dan memiliki slogan Demak Bersatu Bangkit ini.

Ketua KPUD Demak, Mahmudi mengatakan, untuk menjadi calon bupati dan wakil bupati setidaknya memang ada dua jalur. Yakni, melalui jalur partai politik (parpol) dan jalur perseorangan (independen). “Untuk perseorangan berhak maju dalam kontestasi pilkada melalui jalur independen. Untuk jalur perseorangan ini akan kami tunggu. Sebab, selama ini belum pernah ada yang nyalon lewat jalur tersebut (independen),” kata Mahmudi.

Sesuai UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang pilkada langsung disebutkan untuk calon independen saratnya harus mengantongi dukungan masyarakat minimal 6,5 persen dari jumlah penduduk. Berdasarkan data kependudukan yang diterima KPUD Demak per 31 Desember 2014, tercatat ada 1.950.139 jiwa. Karena itu, 6,5 persen dari jumlah penduduk itu, maka dibutuhkan sekitar 71.184 dukungan untuk calon independen. “KPUD sendiri sampai sekarang masih menunggu data resmi jumlah penduduk yang terbaru. Mestianya, kalau mau aman harus mempunyai dukungan lebih dari 71 ribu tersebut. Syarat dukungan usia 17 tahun atau sudah menikah,” tambahnya.

Untuk calon independen ini, persyaratan harus dilengkapi dengan surat pernyataan dukungan komplit dengan tandatangan penduduk dan identitas (KTP) dan lainnya. “Surat pernyataan sifatnya kolektif tapi ditandatangani pendukung disetiap desa dan harus dijilid. Dukungan harus tersebar 50 persen lebih dari semua atau 8 kecamatan,” tambahnya.

Ia menambahkan, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan atau ketidaksesuaian data dukungan, maka petugas dari KPUD akan melakukan verifikasi faktual. “Semua data akan diverifikasi langsung ke rumah warga yang menyatakan memberikan dukungan itu. Karena itu, bukan hanya sekedar mengumpulkan KTP saja,”katanya.

Mahmudi juga mengatakan, untuk calon yang nyalon lewat parpol, maka parpol tersebut harus memiliki kursi di DPRD Demak. Yaitu, minimal 10 kursi atau 20 persen dari jumlah kursi. Di Demak ini, kata dia, tidak ada satupun partai yang bisa mengusulkan sendiri cabup cawabup. Sebab, paling banyak hanya 9 kursi. “Makanya parpol harus berkoalisi,” tambahnya. (hib/fth)