SEMARANG–Mata uang dolar AS yang terus menguat, semakin menekan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut masih diperburuk dengan penurunan volume ekspor dan tingginya volume impor. Rupiah pun semakin terpuruk.

“Fenomena yang terjadi sekarang adalah penguatan dolar AS pada hampir semua mata uang di dunia. Hampir semua mata uang di dunia mengalami pelemahan terhadap dolar, bukan hanya rupiah,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, Iskandar Simorangkir saat kunjungan ke kantor Jawa Pos Radar Semarang, baru-baru ini.

Bahkan, ucapnya, bila dibandingkan dengan negara-negara lain, nilai tukar rupiah masih tergolong cukup baik. Hal ini dikarenakan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi, sehingga depresiasi rupiah terhadap dolar AS lebih rendah bila dibandingkan negara-negara lain.

Faktor lain yang menyebabkan tertekannya nilai rupiah adalah faktor internal. Yaitu lebih banyak pengeluaran dolar AS dibandingkan penerimaan dolar AS ke dalam negeri. “Ekspor kita lebih sedikit dibandingkan dengan impor barang-barang dan jasa. Akibatnya terjadi defisit,” ujarnya.

Pendapatan melalui ekspor menurun karena didominasi oleh produk primer atau sumber daya alam. Seperti kopi, coklat, minyak sawit, batu bara dan biji besi. Produk primer ini hampir 50 persen dari total ekspor.

“Ternyata hasil bumi kita ini harganya juga turun. Jadi sudah volume ekspor yang dijual turun, harganya juga turun. Belum lagi pengeluaran atau impor kita banyak sekali. Maka ya makin defisit,” ujarnya.

Defisit yang dibiarkan terus menerus, lanjutnya, akan berdampak pada penguasaan industri asing di Indonesia. Karena nantinya, lebih murah orang mengimpor, dibanding dengan membeli produk dalam negeri.

“Hal ini harus dicegah. Salah satunya dengan kebijakan insentif pajak untuk barang-barang industri yang mau diimpor. Jadi tidak ada uang keluar, roda ekonomi kita bergerak,” ujarnya.

Selain itu, suku bunga Bank Indonesia juga harus tetap tinggi atau sejalan dengan suku bunga global. Hal ini guna mencegah keluarnya dana investor ke luar negeri. “Kalau bunga di luar tinggi, sedangkan kita rendah, ya investor mending menyimpan dana di luar negeri. Nah, kalau dana mereka ditarik, kita menutupi kekurangan dari mana. Oleh karena itu, suku bunga BI tinggi,” tandasnya. (dna/ida)