Yoyok Sukawi Bisa Jadi Kuda Hitam

170
Yoyok Sukawi. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Hendrar Prihadi. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Hendrar Prihadi. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Soemarmo HS. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Soemarmo HS. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Yoyok Sukawi. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Yoyok Sukawi. (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Semarang pada 9 Desember 2015 mendatang diprediksi bakal diramaikan oleh dua pasangan calon saja. Dua kandidat wali kota tersebut merupakan pasangan calon saat Pilwalkot 2010 lalu. Yakni, Soemarmo HS, dan Hendrar Prihadi alias Hendi yang saat ini masih menjabat Wali Kota Semarang.

Hendi sebagai calon incumbent maju lewat PDIP selaku partai pemenang pemilu. Sedangkan Soemarmo maju menggunakan kendaraan Partai Gerindra dan PAN. Di luar itu, tidak menutup kemungkinan bakal muncul satu pasangan calon lain yang diusung koalisi PKS, Golkar dan Demokrat.

Kandidat wali kota yang bakal dijagokan koalisi tiga partai tersebut kemungkinan Yoyok Sukawi. Putra mantan wali kota Sukawi Sutarip ini diperhitungkan mampu menyaingi elektabilitas Hendi dan Soemarmo. Sehingga bisa jadi Yoyok bakal menjadi kuda hitam dalam pilwalkot mendatang.

Namun sejauh ini Ketua Koalisi PKS, Golkar dan Demokrat, Agung Budi Margono, masih enggan membeberkan apakah bakal mengusung kandidat sendiri. Agung memilih menjawab normatif. Di mana koalisinya tetap akan membuka penjaringan dan pendaftaran calon wali kota maupun wakil wali kota. ”Sesuai kesepakatan bersama, kita tetap menggunakan jalur penjaringan secara terbuka,” terang Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini.

Dia menyatakan, saat ini pihaknya masih dalam proses finalisasi tahapan penjaringan. Dalam waktu dekat akan dibuka penjaringan secara resmi. ”Saat ini kita sedang road show kepada para tokoh dan sejumlah elemen masyarakat untuk meminta masukan terkait figur terbaik untuk kemajuan Kota Semarang. Karena pilkada ini menyangkut hajat hidup orang banyak, tidak sekadar domainnya partai politik,” tegas Agung.

Dalam penjaringan nanti terbuka untuk umum. Bagi tokoh yang memang memiliki visi besar membangun Kota Semarang bisa mendaftar. ”Penjaringan kita terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, siapa pun dia yang punya niat baik, visi besar membangun Kota Semarang tidak ada masalah,” katanya.

Disinggung sosok Soemarmo, yang sebelumnya para petinggi partai koalisi tersebut telah menawarkan pencalonan kepada mantan Sekda Kota Semarang itu dan sosok Hendi yang sebelumnya tim koalisi telah menggelar silaturahmi ke kandang banteng di Jalan Barusari beberapa waktu lalu, Agung menyatakan, semua masih memungkinkan untuk merapat.

”Kalau memang calon tersebut sepakat dengan koalisi ini (PKS, Golkar dan Demokrat), kita serius memenangkannya. Semua serbamungkin, tinggal mana yang bareng-bareng dengan kita,” tegas Agung BM.

Pakar politik Undip, Teguh Yuwono, menyatakan, jika melihat peta politik saat ini, memang bisa jadi dalam pesta demokrasi Desember mendatang bakal terjadi head to head antara calon incumbent dan Soemarmo.

Dilihat dari segi kekuatan, menurut Teguh, saat ini posisi incumbent lebih diuntungkan. Sebab, jaringan yang dibangun masih aktif, sehingga mudah digerakkan. ”Sedangkan Pak Marmo (Soemarmo) punya dua problem. Pertama pernah terkena kasus hukum, pertanyaannya apakah publik bisa menerima dan memaafkan kasus hukum tersebut? Kedua persoalan jaringan Soemarmo yang telah lama mati, apakah mudah dihidupkan?,” terang Teguh.

Jika melihat kondisi saat ini, kata dia, peluang dua kandidat tersebut belum bisa dikatakan fifty-fifty. Soemarmo masih dikatakan tertinggal dengan Hendi. Namun jika melihat jadwal pilkada dilaksanakan pada Desember mendatang, peluang itu masih bisa berubah atau bahkan berbalik.

”Misalnya pilkada dilakukan bulan-bulan ini, Soemarmo belum bisa mengejar Hendi, tapi kalau Desember mendatang, pertanyaannya Soemarmo apakah bisa mengejar ketertinggalannya selama ini. Yang ramai di situ, apalagi dulu satu tim kini bermusuhan. Di situ yang menarik,” tandasnya.

Dari segi kendaraan, Teguh juga menilai Hendi lebih unggul, mesin partai lebih solid. Sedangkan mesin politik Gerindra-PAN yang ditunggangi Soemarmo dianggap masih ketinggalan.

Di lain sisi, ia berharap partai koalisi PKS, Golkar dan Gerindra, bisa memunculkan kandidat baru. Dari kaca mata Teguh, dari tiga parpol tersebut, hanya Yoyok Sukawi dari Demokrat yang dianggap mampu menyamai figur Hendi dan Soemarmo.

”Yoyok yang bisa imbangi figur dua itu. Kalau PKS dan Golkar saya rasa tidak memiliki figur yang bisa mengimbangi. Apalagi perintahnya SBY itu jelas, Demokrat harus mengusung sendiri kadernya. Partai besar tidak punya calon berarti tidak berhasil kaderisasinya,” kata Teguh.

Dengan kemunculan figur baru di luar dua kandidat yang saat ini mulai muncul, maka masyarakat diberi pilihan, tidak hanya incumbent dan Soemarmo.

Pakar Politik dan Pemerintahan Undip yang lain, Yulianto, mengatakan, dua kandidat Hendi dan Soemarmo, masing-masing memiliki plus minus. ”Kalau Hendi jelas, sebagai incumbent lebih dikenal publik, lebih luas, dan ditopang partai yang kuat. PDIP sebagai partai pemenang di Kota Semarang. Dalam kondisi kepemimpinan PDIP sangat solid,” katanya.

Sebaliknya Soemarmo, memiliki kelebihan di sisi birokrasi. Program-program yang dijalankan semasa menjabat. Kelemahan Soemarmo pernah terkena kasus hukum. Hal itu yang bisa menjadi pertimbangan masyarakat. ”Tinggal pandangan masyarakat, apakah memilih calon yang tidak pernah bermasalah, atau menilai jika masalah tersebut hanya mal administrasi, biar masyarakat yang mempertimbangkan sendiri,” tandasnya.

Kalau dari sisi kekuatan peta politik Kota Semarang, kata Yulianto, maka PDIP akan berhadapan dengan Gerindra. Sedangkan PKS, Golkar dan Demokrat, jadi kekuatan alternatif ketiga. ”(PKS, Golkar dan Demokrat) masih menimang-nimang pasangan calon sendiri, tapi belum dapat figur yang tepat untuk diangkat,” katanya.

Jika sampai masa pendaftaran KPU pada 26 Juli mendatang, belum mendapatkan figur untuk dicalonkan, dapat dipastikan koalisi tiga partai tersebut bakal merapat ke salah satu pasangan calon yang diusung Gerindra-PAN atau PDIP.

”Tinggal kemampuan komunikasi politik antara Pak Hendi dan Pak Marmo,” terangnya.

Menurut Yulianto, figur Yoyok Sukawi bisa dipertimbangkan. ”Kalau memang koalisi tersebut mengusung Yoyok, maka akan mengulang pertarungan lama yang masih berlanjut, kompetesi politik lama yang masih berlanjut,” tandasnya. (zal/aro/ce1)