TKI Kendal Terancam Hukuman Mati

167

KENDAL – Seorang TKI asal Kendal, Siti Jumiati tinggal menunggu eksekusi mati di Arab Saudi. Jumiati merupaan TKI yang bekerja sebagai staf rumah tangga di Arab Saudi dan dinyatakan bersalah dengan vonis hukuman mati dalam kasus dugaan pembunuhan majikannnya.

Keluarga Siti Jumiati di Kendal pun hanya bisa pasrah sambil berharap pemerintah bisa menyelamatkan Jumiati dari hukuman mati.
Orangtua Siti Jumiati, Samronah mengaku khawatir dan was-was atas kabar hukuman mati Siti. “Kami percaya, anak kami bukan pembunuh seperti yang sudah dituduhkan” katanya ditemui di rumahnya di Desa Margomulyo Kecamatan Pegandon Kendal.

Ia mendapat kabar, jika anaknya Jumiati saat ini masih menjalani hukuman dalam masa menunggu putusan pengadilan dari pengadilan Kota Riyadh, Arab Saudi yang masih akan diputuskan akhir pekan ini. Siti Jumiati didakwa melakukan pembunuhan terhadap majikannya tahun 2013 silam. Sarmonah mengaku jika anak keduanya itu tidak bersalah dan tidak mungkin melakukan pembunuhan terhadap majikannya seperti yang dituduhkan polisi setempat. “Selama anak saya bekerja, Jumiati mengaku tidak memiliki masalah dengan kedua majikannya,” imbuhnya.

Siti Jumiati sudah menjalani masa tahanan selama dua tahun di penjara kota Riyadh . Meski di penjara, tapi Jumiati kerap memberikan kabar dengan telefon setiap hari senin. Terakhir keluaga di Kendal mendapatkan kabar jika Jumiati dalam keadaan sehat.

“Dari pengakuan Jumiati ia tidak membunuh majikannya, tapi difitnah oleh istri majikannya. Sebab saat kejadian, justru Jumiati dan istri majikannya pergi ke pasar,” tambahnya.

Setelah kejadian itu, keluarga majikannya menyuruh Jumiati menandatangani surat yang tidak diketahui isi surat tersebut. Jumiati menganggap, surat yang ditanda tanganinya adalah surat pengantar kepulangan dirinya ke Indonesia. Tapi bukan pulang ke tanah air, Jumiati justru dijebloskan ke penjara.

Dari hasil pemeriksaan rumah sakit dan dokter setempat majikan Jumiati meninggal bukan karena dibunuh. Melainkan penyakit darah tinggi. Sementara selama persidangan anaknya berlangsung, istri majikannya tidak pernah hadir karena melarikan diri. “Kami sekeluarga tentu tidak ingin Jumiati dihukum mati. Kami sekeluarga menginginkan pemerintah Indonesia ikut membantu proses peradilan Siti Jumiati. Kami berharap, pengadilan arab saudi mau membebaskan Jumiati dari hukuman gantung,” tambah ayah Jumiati, Muntholib.

Suami Jumiati, Kasimin mengaku, dirinya mendapat kiriman uang dari istrinya pertengahan tahun 2013. Setelah itu tidak ada kabarnya lagi. Dirinya mengetahui jika istrinya ditahan sekitar tahun 2014. Yakni setelah mendapatkan kabar dari Disnakertrans.

Jumiati berangkat ke arab saudi pada tahun 2010 diberangkatkan oleh PT Duta Sapta Perkasa yang beralamat di Condet, Jakarta. “Awalnya Jumiati mengaku mendapatkan perlakuan baik dari majikan. Termasuk pembayaran gaji selalu dipenuhi. Tiba-tiba masalah ini muncul, kami kaget. Kami berharap Jumiati mendapatkan pengampunan,” katanya berharap. (bud/fth)