Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno berserta jajaran SKPD menemui Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko di Semarang.---- FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno berserta jajaran SKPD menemui Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko di Semarang.---- FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG
Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno berserta jajaran SKPD menemui Wakil Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko di Semarang.—- FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG

SEMARANG – Kekisruhan yang terjadi di Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal antara Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno dan Wakil Wali Kota Tegal M. Nursholeh sepertinya akan terus berlanjut. Saat keduanya dipanggil Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah, Jumat (24/4) untuk melakukan mediasi, hanya Masitha yang berkenan hadir. Ia datang bersama sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Camat di lingkungan pemerintahannya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko saat menerima Mashita beserta rombongan sedikit membela dengan menyatakan bahwa undangan yang dikirimkan kepada keduanya memang mendadak. Sehingga ada salah satu pihak yang menyatakan tidak dapat hadir. ”Nanti Senin akan bertemu (Nursholeh). Kita sudah komitmen, janjian lewat telepon,” ungkapnya.

Kepada Mashita, Heru meminta Pemkot Tegal untuk segera melakukan pendekatan kekeluargaan. Sehingga tercipta keadaan yang kondusif dan tidak merugikan semua pihak. Ia mengibaratkan Pemkot Tegal saat ini seperti rumah tangga di mana suami dan istri itu sedang berseteru. Jika yang terjadi demikian, maka yang menjadi korban adalah anak-anaknya. Sebagian akan memilih ikut ayah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti ibunya.

”Jangan sampai ini dibiarkan terus-terusan. Tugas kami sebagai pembina, supaya dikembalikan sebagaimana mestinya. Apalagi hubungan provinsi dan daerah adalah satu sistem. Provinsi akan baik jika Kota Tegal juga baik. Kita pahami ini sebagai modal awal,” bebernya.
Heru mengakui, untuk mengembalikan seperti semula perlu proses. Masing-masing pihak tidak boleh saling menyalahkan sehingga tidak menimbulkan komplikasi. Semuanya harus menunjukkan iktikad baik untuk menciptakan pemerintahan yang baik. ”Suka tidak suka, kita semua adalah saudara. Jangan mudah terpolitisasi sehingga tidak merugi,” imbuhnya disambut kesediaan para PNS yang hadir untuk mematuhi.

Menanggapi hal tersebut, Masitha mengaku roda pemerintahan di Kota Tegal masih tetap berjalan. Dia menjamin pelayanan juga tidak akan mengalami gangguan. Terkait penonjoban atas sejumlah PNS di lingkungan pemerintahannya, ia mengaku hal tersebut merupakan sebuah pembinaan. Ia berjanji akan selalu menggunakan kacamata pemerintahan dibanding sikap suka dan tidak suka. ”Semua sudah sesuai dengan undang-undang. Komunikasi saya dengan Pak Wawali juga tidak pernah berhenti,” klaim perempuan yang biasa dipanggil Bunda Sitha itu. (fai/ric/ce1)