Ditemukan Empat Rekening Misterius

97

BARUSARI – Aparat penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polrestabes Semarang menemukan sedikitnya empat rekening misterius terkait kasus dugaan korupsi deposito kas daerah (kasda) Pemkot Semarang. Keempat rekening tersebut bersaldo Rp 596 juta. Rinciannya, satu rekening giro Rp 82.228.447, dan tiga rekening deposito dengan total saldo Rp 514.000.000. Hingga saat ini empat rekening tersebut tidak ada yang mengakui siapa pemiliknya. Diduga empat rekening misterius itu kali pertama dibuat oleh seseorang pada 2012 silam.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Burhanudin, mengaku, akan menyita empat rekening tersebut sebagai barang bukti skandal deposito pemkot yang saat ini bergulir. ”Rekening itu nanti akan kami sita sebagai barang bukti,” kata Burhanudin saat ditemudi Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Jumat (24/4).

Burhanudin menjelaskan, empat rekening tersebut sejauh ini tidak ada yang mengakui siapa pemiliknya. ”Kami masih mencari siapa pembuat rekening tersebut,” ujar mantan Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto ini.

Kuat dugaan, uang di rekening tersebut termasuk bagian kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi kasda pemkot senilai Rp 22,7 miliar. Burhanudin mengaku, pihaknya saat ini masih menentukan langkah selanjutnya guna nengusut siapa pembuat rekening misterius tersebut. Di antaranya, akan melibatkan tim ahli pidana dari Universitas Diponegoro (Undip). ”Rencananya, ahli pidana itu akan kami libatkan sebagai saksi ahli,” katanya.

Lebih lanjut Burhanudin mengatakan, pekan ini juga dalam proses verifikasi terkait dokumen-dokumen serta sertifikat deposito yang disita. Berkas-berkas yang disita sebagai barang bukti tersebut diteliti di laboratorium forensik (labfor) Mabes Polri Cabang Semarang untuk pembuktian terkait keasliannya.

Selain itu, penyidik Tipikor Polrestabes Semarang juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ”Hal itu dilakukan untuk mengetahui terkait aliran keluar-masuk deposito milik pemkot,” terangnya.

Sedangkan untuk kerugian negara dalam kasus raibnya deposito pemkot senilai Rp 22,7 miliar tersebut, belum diketahui secara pasti. Pekan ini, lanjutnya, pihaknya bertemu dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung kerugian negara dalam kasus ini. ”Pekan depan koordinasi lagi dengan BPK,” katanya.

Terkait pemeriksaan tersangka Dyah Ayu Kusumaningrum, Burhanudian menjelaskan akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun ia enggan membeberkan kenapa Dyah tidak ditahan. ”Sudah dikirimkan permohonan pencekalan,” ujarnya.
Selain dicekal agar tidak kabur ke luar negeri, penyidik juga akan melakukan pendataan terkait aset-aset yang dimiliki Dyah Ayu. ”Ya nanti aset-aset milik tersangka akan diselidiki,” katanya.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Aloysius Liliek Darmanto mengatakan, pihaknya akan menyerahkan bukti-bukti terkait dugaan pemalsuan dokumen yang dilaporkan di Polda Jateng ke penyidik Tipikor Polrestabes Semarang.

”Kasus ini kan sudah mengerucut. Tersangkanya sama. Barang bukti yang di sini (Polda Jateng) nanti kami serahkan ke penyidik Polrestabes Semarang. Saat ini, polrestabes biar berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengetahui berapa kerugian akibat ulah dua tersangka itu. Setelah diketahui hasilnya, nanti kami akan lakukan gelar perkara,” terangnya.

Menurutnya, penanganan kasus korupsi tidak semudah menangani kasus pidana umum, seperti kasus pembunuhan dan lainnya. ”Tahap demi tahap dilakukan secara detail. Kami berhati-hati sekali,” katanya. (amu/aro/ce1)