HASIL SITAAN : Petugas PLN menunjukkan hasil sitaan tim yustisi di warung liar jalan lingkar selatan Kota Demak berupa box MCB (meteran) listrik yang dimodifikasi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HASIL SITAAN : Petugas PLN menunjukkan hasil sitaan tim yustisi di warung liar jalan lingkar selatan Kota Demak berupa box MCB (meteran) listrik yang dimodifikasi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HASIL SITAAN : Petugas PLN menunjukkan hasil sitaan tim yustisi di warung liar jalan lingkar selatan Kota Demak berupa box MCB (meteran) listrik yang dimodifikasi, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Setelah sempat tertunda, akhirnya aparat Satpol PP bersama petugas PLN setempat yang dibantu petugas kepolisian, TNI, kejaksaan dan pengadilan bergerak bersama memutuskan aliran listrik yang terpasang di warung-warung liar Jalan Raya Lingkar Selatan, Kota Demak, Kamis (23/4) kemarin. Dengan peralatan komplit, petugas PLN satu persatu melakukan eksekusi aliran listrik yang dinilai melanggar aturan yang berlaku.

Kasatpol PP Pemkab Demak, Yulianto mengatakan bahwa tim yustisi bertugas mendampingi atau membantu PLN Demak dalam menertibkan dan memutus aliran listrik yang tidak berizin. “Ini karena sudah membahayakan masyarakat umum, utamanya yang ada di bangunan semi permanen di jalan lingkar selatan,” kata Yulianto.

Kasi Penegakan Perda Satpol PP, Lilik Handoyo menambahkan, penertiban aliran listrik ini juga tidak diperbolehkan karena pendirian warung tersebut hakekatnya telah melanggar Perda nomor 17 tahun 1991 tentang ketertiban, kebersihan dan keindahan. Apalagi, kata dia, disinyalir banyak warung yang mendirikan usaha karaoke. “Mereka sudah diingatkan tapi diabaikan,” jelasnya.

Menurutnya, ada 14 titik aliran listrik yang diputus dari total 132 warung liar. Manajer Rayon PLN Demak, Sumar Sodiq mengatakan, penertiban aliran listrik itu sesuai dengan perintah Bupati Demak. Ini seiring dengan tidak diperbolehkannya pendirian warung di pinggir jalan lingkar tersebut. “Dari upaya penertiban ini, kami menemukan banyak aliran listrik yang alamatnya tidak sesuai dengan yang didaftarkan semula (fiktif). Pendaftaran sebelumnya lewat kontak senter. Alamat tidak tahu dan tidak sesuai KTP,” katanya.

PLN juga memutus listrik yang disalurkan dari rumah warga. Sebab, aliran itu dapat membahayakan dan rawan terjadi kebakaran. Selain itu, PLN sempat menemukan adanya MCB atau meteran listrik yang dimodifikasi. Pemasang diketahui memperbesar daya sehingga merugikan PLN. “Pelanggar kami panggil dan dikenakan tagihan yang belum terbayar,” katanya. (hib/ida)