SEMARANG – Penjualan emas dan permata di Kota Semarang tengah lesu. Naiknya harga kebutuhan pokok sebagai imbas dari kenaikan harga bahan bakar minyak dan elpiji, menjadi penyebab utama anjloknya penjualan emas.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi), Kota Semarang, Bambang Yuwono, mengatakan jika saat ini penjualan emas dan permata mengalami penurunan hingga 20 persen. “Dibandingkan bulan lalu, bulan ini penjualan makin lesu dan terus mengalami penurunan hingga sebesar 20 persen,” katanya, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Bambang mengatakan, saat ini masyarakat lebih memilih mencukupi kebutuhan sehari-hari dari pada melakukan pembelian emas untuk perhiasan maupun untuk investasi. Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik atau (TDL) diperkirakan akan menambah derita para pedagang emas. “Trennya sekarang masyarakat malah menjual emas untuk mendapatkan uang, bukan malah membeli. Apalagi kalau musim masuk sekolah nanti dan kondisi ekonomi yang sulit seperti saat ini,” tambahnya.

Untuk harga emas saat ini, dengan kadar 24 karat mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu yang bertengger di harga Rp 490 ribu per gramnya. Bambang Yuwono menambahkan, meski harga emas memang saat ini turun menjadi Rp 484 per gram, tapi penjualan tetap stagnan. “Untuk berlian pun mengalami penurunan penjualan, tapi segmentasinya kan berbeda. Berlian cenderung menengah ke atas,” tandasnya.

Dirinya berharap agar pemerintah bisa menstabilkan harga kebutuhan pokok. Hal ini dikarenakan, melambungnya harga kebutuhan akan memperberat usaha para pedagang untuk menjual emas. “Minimal faktor penyebab kenaikan kebutuhan sehari-hari tidak naik lagi, sehingga harga barang-barang tidak ikut naik dan membuat penjualan emas stabil,” pungkasnya. (den/smu)