NAIK TERUS : Sejak beberapa minggu ini harga telur ayam mengalami kenaikan beberapa kali lantaran harga pakan telur yang naik akibat menguatnya dolar Amerika. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NAIK TERUS : Sejak beberapa minggu ini harga telur ayam mengalami kenaikan beberapa kali lantaran harga pakan telur yang naik akibat menguatnya dolar Amerika. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NAIK TERUS : Sejak beberapa minggu ini harga telur ayam mengalami kenaikan beberapa kali lantaran harga pakan telur yang naik akibat menguatnya dolar Amerika. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Sebagaimana kenaikan harga daging, kenaikan harga telur dari Rp 12 ribu menjadi Rp 18 ribu per kilogramnya, juga tak turut dinikmati oleh para peternak telur. Pasalnya, harga pakan ternak ayam, minuman maupun obat-obatan, naik lebih tinggi yakni Rp 15 ribu per 50 kilogramnya dari harga sebelumnya Rp 90 ribu.

Menurut Pengurus Paguyuban Peternak Ayam Petelur, Kecamatan Warungasem, Yamroni, 43, kenaikan harga pakan ayam, lebih disebabkan karena kurs dollar Amerika yang terus menguat, hingga hampir menembus harga Rp 13 ribu per dollarnya. Sementara permintaan pakan ternak terus meningkat, seiring dengan tingginya permintaan akan telur dan harga daging yang terus naik.

“Naiknya harga telur ayam, tidak sebanding dengan kenaikan harga pakan dan obat untuk ternak ayam petelur,” kata peternak ayam petelur warga Desa Karangpadan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Kamis (23/4) siang kemarin.

Bahkan, katanya, dalam seminggu harga pakan ayam sudah naik 2 kali mulai dari Rp 90 ribu hingga Rp 140 ribu untuk per 50 kilogramnya. Kondisi tersebut diperparah dengan masih tingginya curah hujan yang menyebabkan kondisi ayam stress sehingga tidak dapat bertelur dengan baik.

Menurutnya, perubahan cuaca yang tidak menentu, sangat berpegaruh pada produksi ayam petelur. ”Sebulan terakhir ini, produksi menurun hingga 30 persen, karena cuaca yang tidak menentu,” kata Yamroni.

Pengurus Asosiasi Pedagang Pasar, Kecamatan/ Kabupaten Batang, Abdul Reza menambahkan bahwa naiknya harga telur ayam, lebih disebabkan naiknya harga pakan ayam sendiri, bukan karena tingginya permintaan. Menurutnya, hingga saat ini permintaan telur ayam, masih pada batas kewajaran.

”Kalau permintaan akan telur ayam naik, memang iya. Tapi tidak terlalu tinggi, karena rata-rata per pedagang masih menjual 500 butir terlur per harinya. Jadi itu masih batas yang normal,” kata Reza saat di temui di Pasar Sementara, Kabupaten Batang.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindakop) dan UMKM, Kabupaten Batang, Jamal Naser, menandaskan bahwa naiknya harga telur di beberapa pasar tradisional, lebih disebabkan karena harga pakan dan vitamin yang juga naik yang terpengaruh menguatnya dollar Amerika.

Namun demikian, persediaan telur di pasaran masih standar, karena telur termasuk salah satu kebutuhan pokok. “Sudah dua pekan terakhir memang harga telur naik, tapi akan kembali turun, jika harga pakan ayam dan vitamin turun.,” tegas Naser. (thd/ida)