BARUSARI – Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin mengakui kriminalitas di Kota Semarang masih terbilang tinggi. Maka dari itu pihaknya akan terus meningkatkan keamanan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Kota Semarang. Kapolrestabes juga mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk berperan menjaga keamanan di lingkungan masing-masing.

Berdasarkan hasil evaluasi Triwulan pertama 2015 ini, yakni Januari–Maret, tercatat terjadi 898 kejadian tindak pidana dengan tingkat penyelesaian 303 kasus. Kejadian yang dianggap menonjol sebanyak 580 tindak pidana, namun hanya 160 kasus bisa diselesaikan. Sehingga jika dirata-rata, tingkat penyelesaian kasus hanya mencapai 35,77 persen. Artinya, tingkat kejahatan di Kota Semarang masih tergolong tinggi. ”Berdasarkan data seperti itu, saya mengakui, polisi belum berhasil. Kalau berhasil itu kan 100 persen,” kata Burhanudin di Mapolrestabes Semarang, kemarin.

Dikatakannya, dari sekian banyak kejadian tindak pidana tersebut, paling tinggi adalah kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor), yakni 209 kasus. ”Yang bisa terungkap hanya 33 kasus,” kata perwira menengah Polri yang belum genap sepekan menjabat Kapolrestabes Semarang itu.

Berikutnya, kecelakaan lalu lintas terjadi 200 kejadian. Tingkat penyelesaiannya 179 kasus. ”Maka dari itu, masyarakat juga harus berperan aktif terkait Kamtibmas ini,” katanya.

Pihaknya juga akan terus memantau perkembangan dengan melibatkan seluruh jajaran di polsek-polsek. ”Meningkatkan patroli, terutama pada jam-jam rawan,” imbuh Mantan Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Purwokerto itu.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang mengatakan, masih banyaknya terjadi kejadian kriminalitas, baik curanmor, pencurian dengan pemberatan, maupun pencurian disertai kekerasan, tidak semata-mata tanggung jawab kepolisian. ”Ini tanggung jawab bersama-sama, baik kepolisian, masyarakat dan Pemerintah Kota (Pemkot). Kejahatan itu seperti gunung es. Kejahatan yang terlihat adalah hanya ujungnya saja. Padahal, di dasar gunung yang tidak terlihat itu justru tidak tergarap,” katanya.

Menurutnya, pemerintah memiliki peran penting untuk membuat program penanganan kriminalitas yang tidak tergarap itu. ”Kalau kepolisian saja ya tidak bisa,” katanya.

Selain itu, kejahatan yang terjadi saat ini ada beberapa faktor. Pertama faktor kesempatan pelaku. Kedua, faktor kelalaian masyarakat. ”Kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan masih minim. Contoh, saya tanya, apakah Anda memasang kunci ganda di motor Anda? Saya yakin, banyak yang tidak. Ini membuka peluang, atau memberi kesempatan kepada para pelaku,” bebernya.

Terpisah, Wakil Koordinator Indonesian Police Watch (IPW) Jawa Tengah, Agus Hermanto, merasa miris dengan aksi kejahatan di Kota Semarang yang secara kuantitas jumlah angka kejadiannya cukup tinggi. ”Ini alarm kalau kota ini masih cukup berbahaya. Kapan saja kriminalitas bisa mengancam warga,” katanya.

Menurutnya, ada pertanyaan apakah selama ini pihak kepolisian benar-benar melakukan patroli secara benar dan rutin? ”Saya khawatir, jangan-jangan patroli itu hanya formalitas saja. Ini penting, pimpinan harus memantau apakah anak buahnya benar-benar melakukan patroli atau tidak,” katanya.

Agus menegaskan, pimpinan kepolisian harus tegas memberi aturan. Misalnya, aturan menembak pelaku kejahatan. ”Saya pernah mendapat cerita kawan di jajaran Reskrim. Mereka kadang ragu karena khawatir langkahnya (menembak pelaku kejahatan) itu menyalahi prosedur dan pimpinannya lepas tangan,” ujarnya. (amu/zal/ce1)