TINJAU BANK SAMPAH : Kepala Dinas Cipkaru, Mustain sedang meninjau galery kerajinan sampah saat meninjau Bank Sampah Makmur di Dukuh Ngampel RT 03, RW 04, Blotongan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU BANK SAMPAH  : Kepala Dinas Cipkaru, Mustain sedang meninjau galery kerajinan sampah saat meninjau Bank Sampah Makmur di Dukuh Ngampel RT 03, RW 04, Blotongan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TINJAU BANK SAMPAH : Kepala Dinas Cipkaru, Mustain sedang meninjau galery kerajinan sampah saat meninjau Bank Sampah Makmur di Dukuh Ngampel RT 03, RW 04, Blotongan Salatiga. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Penanganan sampah di Salatiga membutuhkan inovasi dan kreativitas masyarakat. Karena itulah, meski budaya memilah sampah organik dan non organik kurang memasyarakat di Salatiga, akan terus disosialisasi dan pendidikan tentang sampah akan terus digalakkan.
“Pengelolaan sampah yang baik, bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Caranya dengan memanfaatkan sampah plastik menjadi kerajinan,” kata Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Ciptaru) Kota Salatiga, Mustain, saat meninjau Bank Sampah Makmur di Dukuh Ngampel RT 03, RW 04, Blotongan Salatiga.

Menurutnya, Bank Sampah Makmur di Dukuh Ngampel bisa menjadi percontohan bank sampah di Salatiga. Pasalnya dari hasil pemilahan sampah tersebut bisa dijadikan beragam kerajinan. “Jika semua bank sampah di Salatiga bisa seperti ini, tentunya permasalahan sampah di Salatiga bisa sedikit teratasi. Karena itu, kami akan memberikan pendidikan agar sampah bisa menambah penghasilan masyarakat. Mulai dari kerajinan sampai ke pupuk kompos,” tegasnya.

Sementara itu Khumaidi, 46, perajin pernik-pernik dari sampah, menginginkan anak cucunya kelak tidak hidup di atas tumpukan sampah, akibat pemerintah tidak bisa lagi mengatasi sampah yang bertambah banyak. Dari kegiatan seperti ini, dirinya juga bisa membantu pemerintah dalam mengurangi polusi sampah di Salatiga. “Di lain sisi menghasilkan uang, juga dapat membantu penangan polusi sampah. Memang saat ini kesadaran masyarakat akan sampah masih minim. Jangankan memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya saja masih enggan. Makanya, kami berharap kegiatan pemanfaatan sampah bisa ditiru,” tandasnya.

Sementara itu, ketua Bank Sampah Makmur, Gito, 56, mengatakan, peduli sampah perlu pembiasaan. Dirinya sudah memanfaatkan sampah dibuat kompos sejak lama. Bahkan Bank Sampah Makmur pernah memenangi juara 1 lomba yang diadakan oleh Dinas Ciptakaru. “Kami berbuat real di lapangan. Ketika ada lomba, kompos yang kami buat tinggal diikutkan ke lomba. Dan akhirnya kami berhasil menjadi juara. Tapi intinya dengan pemanfaatan sampah, bisa membangun budaya bersih lingkungan dan peningkatan ekonomi kemasyarakata,” pungkasnya. (abd/ida)