Atasi Konflik, Perlu Pendekatan Budaya

99
KEDEPANKAN BUDAYA : Kapolres Salatiga sedang menyampaikan permasalahan Salatiga di hadapan anggota dewan, di Gedung DPRD Salatiga, Kamis (23/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEDEPANKAN BUDAYA : Kapolres Salatiga sedang menyampaikan permasalahan Salatiga di hadapan anggota dewan, di Gedung DPRD Salatiga, Kamis (23/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEDEPANKAN BUDAYA : Kapolres Salatiga sedang menyampaikan permasalahan Salatiga di hadapan anggota dewan, di Gedung DPRD Salatiga, Kamis (23/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Menanggulangi konflik masyarakat di Salatiga, anggota DPRD Salatiga bersama Polres Salatiga siap menggunakan pendekatan manusiawi dan budaya. Menyusul adanya isu ras dan budaya yang hingga saat ini belum kunjung selesai di Salatiga. Contohnya, pembangunan asrama Papua sampai sekarang masih ditolak oleh warga.

Kapolres Salatiga, Ribut Hariwibowo, timnya siap untuk bertanggung jawab menjaga keamanan di daerah-daerah pemukiman mahasiswa yang rentan dengan konflik. Selain itu, pihaknya akan memantau kelompok-kelompok yang rentan menimbulkan konflik di masyarakat.

“Kami sudah menugaskan beberapa anggota untuk mengawasi kegiatan kelompok-kelompok tersebut. Selain untuk mengajak warga Papua di Salatiga, kami akan menyelenggarakan kegiatan bakar batu untuk menjaga perdamaian di Salatiga,” katanya di Gedung DPRD Salatiga, Kamis (23/4) kemarin.

Sementara itu, terkait dengan kejahatan di Salatiga angkanya menurun, pencurian motor dari sebelumnya 31 kejadian, turun 86 persen menjadi 7 kejadian. Tapi angka kecelakaan naik jumlahnya pada triwulan ini, dari sebelumnya 7 kecelakaan menjadi 13, naik 85 persen. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bersama (PR). Karena kecelakaan banyak terjadi di Perempatan Kumpulrejo. Terakhir anggota TNI AU yang hendak menghadiri acara di Kodam. “Sampai saat ini, memang sudah ada tanda peringatan yang dipasang di sepanjang jalan memasuki Perempatan Kumpulrejo,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan oleh Teddy Sulistyo. Dirinya menganggap bahwa diskusi dengan Kapolres Salatiga akan membuka wacana tentang penanggulangan konflik di Salatiga. Dengan begini, saya berharap masalah Pasar Rejosari bisa selesai dengan nanggap wayang. Duduk bersama dengan nuansa budaya tentu akaan lebih mudah diselesaikan.

“Saya berharap kegiatan ini akan terus dibudayakan. Sehingga dapat menumbuhkan semangat rembug masyarakat. Tidak perlu lagi gontok-gontokan karena semua bersaudara dalam berbangsa dan bersuku,” katanya. (abd/ida)