Dua Perempuan Positif Kanker Leher Rahim

101
DETEKSI KANKER : Beberapa kaum wanita sedang antre pemeriksaan gratis IVA untuk mengetahui adanya kanker serviks atau tidak di Aura Medika Salatiga, Selasa (21/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DETEKSI KANKER : Beberapa kaum wanita sedang antre pemeriksaan gratis IVA untuk mengetahui adanya kanker serviks atau tidak di Aura Medika Salatiga, Selasa (21/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DETEKSI KANKER : Beberapa kaum wanita sedang antre pemeriksaan gratis IVA untuk mengetahui adanya kanker serviks atau tidak di Aura Medika Salatiga, Selasa (21/4) kemarin. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Sebanyak 2 orang dari 51 perempuan yang turut melakukan pemeriksaan gratis di Aura Medika Salatiga, Selasa (21/4) kemarin, dinyatakan positif menderita kanker serviks (leher rahim). Yakni, dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Salatiga bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bertepatan pada peringatan Hari Kartini yang ke-136.

Dr Tasfiyah Sri Prihati dari DKK Kota Salatiga merujuk dua peserta yang positif terkena kanker serviks untuk segera dilakukan terapi yang tepat. “Kami menyarankan untuk segera dilakukan cryotheraphy. Ini adalah terapi untuk mematikan sel kanker dengan cara dibekukan hingga membentuk seperti bunga es,” terang Tasfiyah.

Menurutnya, deteksi kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa metode yakni papsmear, IVA, thin prep, dan kolposkopi. Sedangkan metode yang dilakukan oleh DKK Salatiga dalam kegiatan ini adalah IVA atau inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Yakni, metode pendeteksi kanker serviks dengan cara mengoles serviks atau leher rahim dengan menggunakan asam asetat sebanyak 5 persen.

“Metode ini dipilih karena mudah, murah dan dapat dilakukan di mana saja, tanpa harus ke laboratorium. Alat yang dibutuhkan hanya cutton ball dan asam asetat. Ketepatan metode ini sampai 90 persen, jika dilakukan oleh tenaga terlatih,” terang Tasfiyah.

Sel kanker merupakan protein tinggi sehingga akan bereaksi ketika terkena cairan asam asetat. Jika terdapat kelainan, maka 75 persen area leher rahim akan berubah warna menjadi putih. Maka itu artinya ada infeksi pada serviks.

Selain itu, Tasfiyah juga menyarankan kepada para peserta agar melakukan pemeriksaan semacam ini minimal 1 tahun sekali. “Karena kondisi serviks akan berubah dari tahun ke tahun,” imbuhnya.

Salah satu peserta dari Gendongan, Ninik, mengaku tidak merasa tegang dan takut selama menjalani pemeriksaan. Karena yakin hasilnya negatif. “Saya tidak mengalami gejala-gejala adanya kanker serviks sebagaimana ciri-ciri yang disebutkan pada formulir pemeriksaan. Seperti nyeri pinggang, haid tidak teratur, keputihan, jadi saya yakin sehat,” jelas Ninik.

Sementara itu, ketua panitia acara dari BPJS, Hafid Nugroho menyatakan bahwa kanker leher rahim atau kanker serviks merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks). Penyakit ini menjadi pembunuh nomor satu perempuan di dunia.

Oleh karenanya, perlu dilakukan tindakan preventif untuk mengatisipasi bahaya penyakit ini sejak awal. Jika dari awal sudah diketahui ada gejala kanker serviks, bisa dilakukan tindakan atau treatment yang efektif dan tepat. “Namun pemeriksaan gratis ini diperuntukan bagi perempuan yang sudah menikah dan terdaftar sebagai peserta BPJS,” katanya. (abd/ida)