TERDAMPAK ATURAN : Seorang nelayan beraktivitas di tengah deretan kapal di pesisir Lasem, Kabupaten Rembang. Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng minggu ini akan melakukan uji petik alat tangkap cantrang di Rembang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TERDAMPAK ATURAN : Seorang nelayan beraktivitas di tengah deretan kapal di pesisir Lasem, Kabupaten Rembang. Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng minggu ini akan melakukan uji petik alat tangkap cantrang di Rembang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TERDAMPAK ATURAN : Seorang nelayan beraktivitas di tengah deretan kapal di pesisir Lasem, Kabupaten Rembang. Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng minggu ini akan melakukan uji petik alat tangkap cantrang di Rembang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Uji petik alat cantrang yang digagas DPRD Jateng dan Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng gagal dilakukan. Mereka berdalih butuh proses pematangan rencana dan harus dilakukan secara maksimal. Rencananya, uji petik akan dilakukan di Kabupaten Rembang 21 April 2015.

DPRD Jateng membantah pelaksanaan uji petik diundur. ”Sebenarnya bukan diundur tapi jadwalnya disepakati menjadi 19-20 Mei 2015 di Rembang dan 26-27 Mei 2015 di Tegal untuk lebih mematangkan persiapan,” kata anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono usai bertemu dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, kemarin.

Politisi PKS ini menambahkan, uji petik dilakukan menyikapi pro kontra terkait pelarangan penggunaan cantrang sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN-KP/2015. Uji cantrang dilakukan untuk mengetahui apakah alat tangkap itu merusak atau justru ramah lingkungan. ”Efek dari cantrang memang harus dibuktikan. Apakah cantrang merusak atau ramah lingkungan,” imbuhnya.

Untuk uji petik, bakal dilibatkan langsung sejumlah kalangan. Mulai dari stakeholder, kalangan akademisi, serta perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan ikut bersama membuktikan serta menyelesaikan kajian yang dilakukan di lapangan. ”Yang lebih penting dari hasil uji petik adalah perubahan alat tangkap ikan dari cantrang ke purse seine atau pukat cincin oleh para nelayan. Ini masalah serius, karena membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 5-6 miliar untuk alat tangkapnya,” tambahnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Lalu Muhammad Syafriadi menyambut baik rencana pelaksanaan uji petik alat cantrang. Uji petik bisa membuktikan terkait dengan sistem kerja cantrang, apakah merusak lingkungan atau tidak. ”Kami menyambut baik dengan kegiatan ini. Memang uji petik mundur dari jadwal semula,” katanya.

Ia menambahkan, jumlah nelayan pengguna cantrang di Jateng saat ini menjadi yang terbesar jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Tercatat ada sebanyak 10.758 unit cantrang atau 41,2 persen dari total alat tangkap ikan yang ada di provinsi setempat pada 2015. ”Cantrang ini menjadi salah satu alat tangkap ikan yang favorit bagi para nelayan di Jateng. Makanya jika ada pelarangan mesti akan berdampak besar bagi nelayan,” tambahnya. (fth/ric/ce1)