Talud Sungai di Desa Gendongan Ambrol

253
BAHAYAKAN WARGA : Petugas kelurahan sedang meninjau lokasi talud sungai yang ambrol di RT 2 RW 5 Gendongan. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAHAYAKAN WARGA : Petugas kelurahan sedang meninjau lokasi talud sungai yang ambrol di RT 2 RW 5 Gendongan. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAHAYAKAN WARGA : Petugas kelurahan sedang meninjau lokasi talud sungai yang ambrol di RT 2 RW 5 Gendongan. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA—Akibat gerusan air hujan, talud di bantaran sungai di RT 2 RW 3, Kelurahan Gendongan ambrol. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Tapi jika tidak segera ditangani, ambrolan talud akan semakin lebar dan membahayakan rumah milik Sumarno, 55, yang hanya berjarak 1 meter dari lokasi ambrol.

Dari keterangan yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, ambrolnya talud sungai sedalam 10 meter tersebut sekitar pukul 16.30, Senin (20/4) kemarin. Sebelumnya memang sudah mulai retak, lantaran proses pembangunan talud yang asal-asalan. Bahkan, batu besar di pinggir tebing sungai tidak diambil. Namun beberapa waktu lalu, setelah pembangunan selesai, batu besar tersebut jatuh ke sungai dan sekarang ambrol.

Sumarno, 55, pemilik rumah di samping sungai mengatakan bahwa sewaktu akan dibangun, di tebing sungai ada batu besar. Tapi ketika hendak diambil, tidak bisa. Akhirnya langsung dibangun talud. Seminggu kemudian batu besar tersebut jatuh ke sungai dan menyebabkan kerusakan pada talud. Untuk mengantisipasi agar tidak ambrol lebih parah lagi, dirinya menutupi tanah dengan terpal. Harapannya, agar air tidak langsung mengenai tanah yang ambrol.

“Suara longsor sempat mengagetkan beberapa warga. Karena suaranya sangat keras. Agar tidak ambrol lagi, sementara ini ditutup dengan terpal dulu. Kalau tidak segera ditangani, akan menyebabkan ambrol lebih parah,” katanya.

Sementara itu, Didik Dwicahyono, staf Kelurahan Gendongan, Tingkir, Salatiga mengatakan kejadian ini dilaporkan ke dinas terkait. Yang nantinya kelurahan sebagai fasilitator akan segera melakukan antisipasi penanganan awal. “Sebelumnya, kira-kira 10 meter dari ambrolan sekarang, juga pernah ambrol. Setiap kali hujan lebat, tanah terkikis dan ambrol. Sehingga kami menangani ambrolan sementara dengan meletakkan terpal di titik rawan. Diharapkan ambrolan tidak bertambah parah karena jaraknya hanya kurang lebih 1 meter dari permukiman warga,” jelasnya. (abd/ida)