MASIH LESU : Para pengunjung melihat pameran komputer di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. Pasar komputer saat ini sedang lesu akibat menurunnya daya beli masyarakat. (JAWA POS RADAR SEMARANG FILES)
MASIH LESU : Para pengunjung melihat pameran komputer di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. Pasar komputer saat ini sedang lesu akibat menurunnya daya beli masyarakat. (JAWA POS RADAR SEMARANG FILES)
MASIH LESU : Para pengunjung melihat pameran komputer di sebuah pusat perbelanjaan beberapa waktu lalu. Pasar komputer saat ini sedang lesu akibat menurunnya daya beli masyarakat. (JAWA POS RADAR SEMARANG FILES)

SEMARANG- Sejumlah pengusaha komputer di Kota Semarang mengeluhkan turunnya penjualan komputer sejak awal tahun 2015. Saat ini, penjualan komputer merosot hingga 70 persen lebih dibandingkan tahun lalu.

Owner BK Komputer, Kadarpono mengatakan, jika pada tahun lalu penjualan komputer bisa mencapai 15 unit per hari, kini rata-rata hanya 3-10 unit per hari. Kondisi tersebut telah dirasakan sejak Januari hingga April ini. “Sekarang penjualan komputer di pasar ritel sepi sekali. Padahal keuntungan kita sangat tipis, maksimal hanya Rp 50.000 per unit. Jadi, keuntungan penjualan sekarang bisa untuk menutup biaya operasional saja sudah bagus,” katanya.

Menurutnya, penurunan penjualan diprediksi karena kondisi perekonomian yang tidak stabil. Dengan begitu, daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sekunder sangat minim. “Komputer kan kebutuhan sekunder. Dengan kondisi perekonomian saat ini, masyarakat tentu lebih mementingkan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Kadarpono, yang memiliki 3 gerai komputer di Kota Semarang.

Sepinya penjualan komputer, lanjut Kadarpono, membuat sejumlah pengusaha komputer di Kota Semarang mulai beralih profesi dan gulung tikar. Kadarpono yang juga mantan Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Semarang ini mengaku, sudah banyak rekan seprofesinya yang beralih ke usaha lain.

“Ada beberapa yang terpaksa menutup usaha komputer dan beralih ke usaha kuliner dan lain-lain karena tidak bisa menutup biaya operasional di tengah sepinya penjualan. Sedangkan yang lain memilih bertahan dengan margin yang minim,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Winyoto, pemilik Bhinneka Komputer Semarang. Di tengah lesunya penjualan komputer, pihaknya memilih bertahan dan berupaya melakukan berbagai terobosan, baik inovasi maupun program penjualan. “Untuk menyiasati kondisi ini kami selalu berupaya menghadirkan produk-produk baru, dimana respon pasar terhadap produk baru masih relatif bagus,” paparnya.

Namun begitu, diakuinya hal tersebut masih belum mampu mendongkrak penjualan komputer hingga seperti tahun-tahun sebelumnya. Begitu pula dengan diskon-diskon yang juga terkendala daya beli rendah. “Sekarang yang penting bisa bertahan. Hanya saja ini sampai kapan, kita tidak bisa jawab. Lalu yang bisa jawab siapa?,” terangnya.

Terkait dengan fenomena nilai tukar rupiah terhadap dollar, Winyoto menegaskan, tak lagi berpengaruh ke penjualan. Pasalnya, saat ini pembelian dilakukan dengan transaksi rupiah. “Sekarang transaksi rupiah semua, kami tidak berani pakai dollar,” tandasnya. (aln/jpnn/ric)