Okupansi Hotel Bintang Menurun

99
PACEKLIK: Tingkat keterisian kamar hotel di Semarang menurun akhir-akhir ini. Di antaranya dipengaruhi larangan menggelar rapat di hotel untuk instansi pemerintahan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PACEKLIK: Tingkat keterisian kamar hotel di Semarang menurun akhir-akhir ini. Di antaranya dipengaruhi larangan menggelar rapat di hotel untuk instansi pemerintahan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
PACEKLIK: Tingkat keterisian kamar hotel di Semarang menurun akhir-akhir ini. Di antaranya dipengaruhi larangan menggelar rapat di hotel untuk instansi pemerintahan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di Semarang pada kuartal pertama tahun ini menurun antara 15 – 20 persen dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu. Selain dampak peraturan pemerintah soal pelarangan meeting di hotel dengan biaya negara, daya beli corporate juga mempengaruhi penurunan tersebut.

General Manager Grand Candi Hotel Semarang, Juliamengatakan, tren bisnis pada 4 bulan pertama memang cenderung low season alias sepi. Untuk hotel sendiri biasanya tingkat keterisian hanya berkisar 50 – 55 persen. “Januari – April memang biasanya low season. Tapi, Januari – April tahun ini lebih jelek dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata hotel di Semarang mengalami penurunan antara 15 – 20 persen. Kalaupun ada yang mengalami peningkatan, itupun hanya sedikit,” paparnya.

Penurunan tersebut menurutnya sebagai dampak dari adanya peraturan yang melarang instansi pemerintahan untuk menyelenggarakan kegiatan di hotel. Meski peraturan tersebut sudah dicabut belum lama ini, namun dampaknya masih tetap terasa. “Dicabutnya awal April, tapi pembuatan anggaran biasanya tahun sebelumnya atau beberapa bulan sebelumnya. Selain itu para klien kami sebelumnya juga masih ragu untuk menyelenggarakan acara di hotel, karena peraturan yang dicabut masih dipusat, daerah belum ada ketentuan,” ujarnya.

Selain itu, faktor daya beli corporate di Januari – April tahun ini juga tak sama dengan tahun sebelumnya. Ada pelemahan yang berdampak pada tingkat okupansi hotel. Peningkatan, lanjutnya, baru akan mulai terasa memasuki bulan Mei. Bila melihat tren bisnis, seharusnya, memasuki kuartal kedua sudah ada peningkatan, terlebih menjelang bulan Ramadhan, biasanya okupansi akan naik. “Namun bila melihat wisatawan maupun kalangan bisnis yang datang ke Semarang, antara permintaan yang masuk dengan tingkat ketersediaan kamar tidak sebanding. Masih lebih banyak tingkat ketersediaannya. Jadi dimungkinkan, tidak semua hotel akan menikmati tingginya hunian,” ungkapnya. (dna/smu)