SEMARANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) minta perbankan untuk menjaga tingkat rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di sektor properti dan otomotif. Kedua sektor tersebut, saat ini dinilai cukup berisiko terjadi peningkatan NPL.

Kepala OJK Jateng-DIY Y Santoso Wibowo mengatakan, saat ini bank perlu mewaspadai kredit di sektor properti dan otomotif. Selain kredit bersifat konsumtif, dua sektor tersebut saat ini juga tengah mengalami kelesuan. “Misalkan saja yang kredit mobil itu pengusaha, di tengah kondisi perekonomian seperti ini, bisa saja omset dari usahanya menurun. Kalau omset menurun, ya angsuran mobilnya bisa menjadi tersendat,” ujarnya, kemarin (20/4).

Namun demikian, ucapnya, sejauh ini NPL perbankan di Jawa Tengah masih berada di bawah 5 persen. Yaitu di kisaran 3,8 persen. Angka tersebut dinilai masih cukup aman.

Beda halnya dengan NPL dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Saat ini NPL BPR mencapai angka 5,8 persen, dari yang sebelumnya 5,3 persen. Menurutnya, angka tersebut terkait dengan permasalahan politik yang tengah melanda Indonesia. “Tiga bulan pertama tahun ini kondisi ekonomi memang agak sulit, terlebih dengan adanya gonjang-ganjing politik,” ujarnya.

Ia memprediksi, NPL BPR ini dapat menurun setelah kuartal kedua, atau setidaknya sebelum Lebaran. Ya, ekonomi yang biasanya menggeliat menjelang lebaran ini diharapkan dapat menurunkan angka NPL BPR. “Kalau sebelum lebaran biasanya kan perekonomian menggeliat, sehingga NPL diharapkan bisa turun hingga di bawah 5 persen,” tandasnya. (dna/smu)