Pelaku dan Kasatreskrim Sempat Berdebat

122
DIKERUBUTI WARGA : Rekonstruksi pengeroyokan berbuntut kematian korban digelar di tempat netral di SPBP Jalan Veteran Kota Pekalongan, dengan disaksikan oleh warga sekitar yang penasaran, Senin (20/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKERUBUTI WARGA : Rekonstruksi pengeroyokan berbuntut kematian korban digelar di tempat netral di SPBP Jalan Veteran Kota Pekalongan, dengan disaksikan oleh warga sekitar yang penasaran, Senin (20/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIKERUBUTI WARGA : Rekonstruksi pengeroyokan berbuntut kematian korban digelar di tempat netral di SPBP Jalan Veteran Kota Pekalongan, dengan disaksikan oleh warga sekitar yang penasaran, Senin (20/4) kemarin. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Rekosntruksi kasus pengeroyokan dan penusukan yang berakibat kematian Wisam Bayu Bin Peno Suwarno, 31, warga Kelurahan Degayu RT 1/4 Kecamatan Pekalongan Utara, sempat diwarnai aksi perdebatan antara Kasatreskrim Polres Pekalongan AKP Bambang Purnomo dan pelaku.

Pasalnya, pelaku Febri Aksanidom, 20, warga Panjang Wetan Pekalongan Utara, ngotot tidak menusuk hanya menyabetkan pisau. Namun hasil visum dan keterangan saksi-saksi ada aksi penusukan dan ada bekasnya. Setelah dijelaskan berkali-kali, akhirnya pelaku mengingat penusukan pisau di pinggang korban dilakukan pada adegan ke-13 dalam rekonstruksi yang digelar Senin (20/4) kemarin.

Ada empat pelaku yang terlibat dalam aksi pengeroyokan. Mereka ditangkap tim Buser Reskrim Polres Pekalongan Kota Jumat dini hari (27/3) sekitar pukul 00.00 di Muara Baru Jakarta. Adalah Febri Aksanidom yang residivis jambret; Amirul Muttaqien, 21, warga Jalan Kusuma Bangsa Panjang Wetan Pekalongan Utara; Dedi Reza, 25, warga Panjang Wetan Gang Umbul; dan M Zein, 23, warga Panjang Wetan Gang 1 Kota Pekalongan.

Dalam rekonstruksi tersebut, polisi juga mendatangkan teman korban yaitu M Subkan alias Pak Le Bin Basari warga Kelurahan Gamer Wetan Nomor 90 Kecamatan Pekalongan Timur. Selain itu, mendatangkan saksi mata penjual nasi goreng yang turut menolong korban penusukan serta dua saksi mata lain di lokasi kejadian.

Sedangkan rekonstruksi awal digelar di halaman eks Polwil Pekalongan, untuk mengambil data beberapa adegan. Seperti saat kedua korban naik motor dan berpapasan dengan keempat pelaku. Hingga akhirnya terjadi adu mulut yang menimbulkan perkelahian tidak imbang antar kedua kubu.

Namun, saat adegan pengeroyokan dipindah ke lokasi lain, namun tidak di lokasi kejadian di depan SPBU Jalan Kimangunsarkoro Kelurahan Gamer Kecamatan Pekalongan Timur Kota Pekalongan. Tapi dilaksanakan di tempat netral yang mirip yaitu di SPBP Jalan Veteran Kota Pekalongan,” kata Kasatreskrim AKP Bambang.

“Pemilihan lokasi rekonstruksi di tempat netral ini, untuk menghindari amukan massa. Karena di lokasi asli, dekat dengan rumah korban penusukan. Kami khawatir, jika keluarga korban atau teman korban tahu, akan terjadi masalah yang tidak diinginkan,” ucap AKP Bambang.

Dijelaskan, rekonstruksi tersebut diperlukan untuk melengkapi berkas perkara yang akan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekalongan. “Rekonstruksi ini untuk memperjelas kesaksian saksi mata dan tersangka. Ada 14 adegan yang sesuai dengan berkas perkara,” terangnya.

Menurutnya, modus pengeroyokan lebi karena merasa jengkel kepada korban. Kedua kelompok ini, tidak ada hubungan sebelumnya, murni pertikaian saat kejadian berlangsung. “Pelaku pengeroyokan , akan dijerat dengan pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara,” imbuhnya. (han/ida)