NU Jaring Sembilan Nama

117

DEMAK – PC Nahdlatul Ulama (NU) Demak telah mengadakan rapat khusus membahas calon bupati yang siap direkomendasikan untuk maju dalam pilkada nanti. Setidaknya ada 9 nama yang telah mengemuka dalam rapat tersebut. Yaitu, 5 dari NU dan 4 lainnya dari partai politik (parpol). Meski demikian, keputusan siapakah yang akan direkomendasikan itu masih menunggu hasil istikharah para kiai khos.

Lima nama dari internal NU adalah KH Ir Musadad Syarief (Ketua PCNU), Afhan Noor (Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ), Mulyani M Noer (Kepala SMAN 1 Karanganyar), dr Mashudi, serta Dr Abdurrahman Kasdi Lc MSi (Ketua GP Ansor Demak). Sedangkan, yang dari parpol hingga kini belum bisa disebutkan. Bila hasil istikharah kiai nanti salah satu diantaranya telah muncul, maka yang lain akan mendukung sepenuhnya dan tidak boleh menjegal.

Ketua PCNU Demak, KH Ir Musadad Syarief mengatakan, pihak NU memberikan kesempatan kepada parpol untuk memunculkan kadernya kemudian digabungkan dengan NU. “Setelah itu, kita sowankan ke kiai. Dari parpol sebetulnya kita menjagokan Mas Fathan dan Mbak Ida Nur Sa’adah (dari PKB). Namun, yang bersangkutan belum bersedia. Yang pasti, kita ingin dorong kader NU untuk ikut maju dalam pilkada ini. Selain itu, kita butuh pemimpin cerdas yang jujur,”katanya disela seminar dengan tema menggagas calon bupati independen menuju Demak satu yang digelar PD Kolektif Kosgoro kerjasama dengan Kantor Kesbangpolinmas di gedung Haji, Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam.

Ketua PD Kolektif Kosgoro Demak, Susilo menegaskan, saat ini banyak calon yang tidak mau berterusterang. Karena dimungkinkan takut dengan biaya tinggi. “Kita melihat partai galau dan tidak kelas mau kemana. Kita prihatin. Mestinya, partai bertanggungjawab dan berani untuk mengusung kadernya. Ini harus dilakukan sehingga tidak beli kucing dalam karung,” katanya.

Dosen Undip Semarang, Susilo Utomo mengatakan, berdasarkan hasil penelitian di kabupaten/kota yang akan menggelar pilkada, termasuk di Demak, ternyata pemilih telah mempunyai kriteria sendiri. Di Demak misalnya, calon yang akan dipilih sebagai bupati dan wakilnya adalah bagi mereka yang memiliki latar belakang birokrat atau punya pengalaman dipemerintahan. Kemudian, berlatarbelakang sebagai ulama, serta dari kalangan pengusaha. “Kalau dari ulama ada harapan yang benar dikatakan benar dan yang salah dikatakan salah. Sebab, yang namanya jabatan itu amanah dan bukan penggautan atau mencari kekayaan. Ternyata, kalau ada kader partai ikut nyalon pasti tidak terpilih. Ini hasil survey beneran. Sebab, pemilih tidak suka orang parpol,” katanya.

Ia menambahkan, bila ada yang mau nyalon independen maka perseorangan itu harus punya jaringan dan uang. “Perlu diketahui, sampai sekarang itu, partisipasi pemilih masih tergantung pada pengetahuan pemilih serta ada tidaknya uang (transport),”katanya. (hib/fth)