Jateng Sabet Lima Besar

117
WAKIL JATENG : Para penari dari Sanggar Greget saat tampil dalam Pentas Budaya Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Jateng mampu menembus lima besar terbaik. (AJIE MH/jawa pos RADAR SEMARANG)
WAKIL JATENG : Para penari dari Sanggar Greget saat tampil dalam Pentas Budaya Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Jateng mampu menembus lima besar terbaik. (AJIE MH/jawa pos RADAR SEMARANG)
WAKIL JATENG : Para penari dari Sanggar Greget saat tampil dalam Pentas Budaya Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Jateng mampu menembus lima besar terbaik. (AJIE MH/jawa pos RADAR SEMARANG)

JAKARTA – Jateng nyaris tidak pernah absen menjadi juara dalam gelaran tahunan bertajuk Pentas Budaya Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Meski tidak bisa mempertahankan juara umum, paling tidak tahun ini masih masuk dalam lima penampil terbaik.

Parade budaya yang diikuti semua provinsi di Indonesia Minggu (19/4) sedikit berbeda dari ajang sebelunya. Jika tahun-tahun lalu seluruh peserta diberikan kesempatan sekitar 3 menit untuk tampil di Tugu Api, kali ini hanya semacam konvoi saja. Alasan itulah yang menjadi salah satu faktor Sanggar Greget Semarang, yang mewakili Jateng, gagal mempertahankan juara umum. Pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priambodo menuturkan, sudah merancang koreografi Tari Gugur Gunung sebagai tontonan, bukan karnaval.

“Memang sejak dulu Pentas Buduaya Nusantara selalu menyediakan waktu untuk perform di depan dewan juri. Tapi pas technical meeting lalu, tiba-tiba peraturannya diubah. Jelas keteteran karena harus merombak konsep keseluruhan. Padahal waktunya hanya sisa sekitar dua mingguan,” ungkapnya.

Meski sempat dipusingkan, toh Sanggar Greget harus tampil moncer demi membawa nama baik Jateng di kancah nasional. Sebagai arsitek tari, Yoyok kembali mengotak-atik alur Tari Gugur Gunung yang dibawakan 100 personel. Menurutnya, tarian itu ada tiga varian, pertunjukan, hiburan, dan kenikmatan.

“Awalnya memang dirancang untuk pertunjukan. Atraksi dan koreografinya dikemas untuk menyampaikan banyak makna dari Tari Gugur Gunung. Tapi karena peraturannya diubah, terpaksa harus switch ke versi hiburan. Hanya mengutamakan penampilan saat berjalan. Praktis, penyampaian pesannya jadi terpangkas,” katanya.

Gugur Gunung, kata Yoyok, menceritakan mengenai nilai toleransi. Tepo sliro antar warganya jelas digambarkan dengan koreografi penari yang bermain-main dengan alat-alat kebersihan seperti engkrak, sapu lidi, sapu ijuk, keranjang sampah, serta sikat.

Orang Jawa, lanjutnya, punya jiwa solidaritas yang tinggi. Mereka selalu bergotong royong untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tempat tinggal masing-masing. Rasa guyub itu digambarkan dengan gotong royong membersihkan dengan rasa ewuh pakewuh memberikan toleransi yang meneladani sikap nilai moral tinggi di masyarakat.

Di luar dari kendala yang dihadapi, penampilan Jateng nyaris tanpa cacat ketika pawai. Perjalanan dari halaman Dunia Air Tawar menuju panggung kehormatan Tugu Api Pancasila TMII terbukti mampu menarik perhatian pengunjung. Suara gamelan yang diikuti lantunan tembang Gugur Gunung begitu menggebu. Apalagi busana yang dikenakan cukup unik. Penari wanita menggunakan balutan baju lurik warna biru dengan garis-garis emas dengan bawahan batik bermotif Gugur Gunung. Disematkan juga aksesoris pendukung lain seperti rangkaian lidi warna biru yang mencuat di rambut.

Sementara penabuh gamelan menggunakan busana dari kulit jagung kering. Motifnya juga beragam. Ada yang bermotif burung garuda, kupu-kupu, dan pancasila. Jateng terbilang beruntung lantaran bebrapa saat setelah tampil, hujan deras mengguyur TMII yang sempat mengacaukan defile dari provinsi lain. Cuaca kembali menjadi kendala sehingga pertunjukan harus ditunda selama beberapa jam agar penampilan daerah lain tetap mampu optimal.

Di akhir gelaran, tim juri memilih Jawa Timur sebagai juara umum. Sementara lima penampil terbaik ditujukan kepada Jateng, Jatim, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Timur, dan DIY.

Yoyok mengaku sudah kenyang meski predikat juara umum terlepas. Pasalnya, kali ini yang tampil adalah para penari junior yang jam terbang mereka masih minim. “Karena yang SMP dan SMA sedang menghadapi ujian, jadi yang dibawa anak-anak SD. Yang senior hanya beberapa untuk mendampingi saja,” ungkapnya.

Sangar Greget sendiri sudah mencetak hattrick di Pawai Budaya Nusantara TMII. Yaitu 2011 lewat Tari Topeng, 2012 dengan Tari Batik, dan 2014 Tari Kriya. Meski sudah puas, toh Yoyok tetap mencatat beberapa evaluasi. Dia akan segera membenahi tim Tari Gugur Gunung untuk diikutkan di Istana Negara untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus mendatang.

Sementara itu, Kepala Biro Bina Menal Setda Jateng Rahardjanto Pudjiantoro menuturkan, masuk lima besar penyaji terbaik bisa dibilang prestasi yang sudah bisa dibanggakan. “Inilah hasil latihan dan usaha keras selama ini. Semoga tahun depan bisa kembali membawa pulang trofi juara umum karena Jateng punya potensi untuk itu. Tahun ini Jatim memang tampil bagus karena yang dibawa seniman senior semua,” uncapnya.

Ditambahkan Karisma Nur Aruari, Pimpinan Produksi Sanggar Greget, bahwa tim yang diboyong sudah cukup memuaskan. “Soalnya ini ujian fisik juga. Jalur konvoinya cukup jauh sehingga benar-benar butuh konsentrasi ekstra tinggi untuk tetap tampil konsisten dari start hingga finish. Bisa masuk lima besar sudah sangat bagus untuk tim lapis sekian,” pungkasnya. (amh/ric)