SEMARANG – Perda olahraga yang digadang-gadang mampu menunjang prestasi olahraga di Jateng saat ini masih terus digodog oleh DPRD Jateng yakni Koisi E yang membidangi olahraga serta pihak terkait seperti Dinpora Jateng. Tahun ini ditargetkan rancangan aturan yang juga akan melindungi para pelaku olahraga serta akan menjadi paayung hukum pembangunan sarana dan prasara olahraga di Jateng ini sudah akan disahkan.

Ketua Komisi E DPRD Jateng AS Sukawijaya mengatakan, pihaknya tak akan terburu-buru mengesahkan Raperda tersebut. Dibutuhkan ketelitian dan kecermatan, agar saat menjadi Perda akan memberikan manfaat terutama pada pelaku olahrag serta perkembangan olahraga di Jawa Tengah.

“Kami tengah menggenjot perda ini agar keolahragaan Jateng bisa berkembang. Rencananya, kami akan mengunjungi Sumsel untuk menambah referensi,” kata pria yang akran disapa Yoyok Sukawi ini.

Yoyok membocorkan, isi Raperda di antaranya, nantinya para atlet yang berprestasi akan dijamin masa depannya. Seperti jika masuk perguruan tinggi ternama, akan tanpa biaya sampai lulus. Begitu juga dengan yang sudah sarjana, dijamin mudah mencari kerja dengan modal prestasi. “Hal itu untuk menjaga para atlet untuk tidak migrasi, karena potensi bibit-bibit atlet Jateng terbilang prima dan sudah banyak yang diincar daerah lain,” ungkapnya.

Tradisi kutu loncat yang merugikan KONI Jateng itu, lanjut Yoyok, akan lenyap dengan perda baru ini. Dia merasa, pembajakan ini bukan semata salah atletnya karena mereka juga butuh jaminan dan kenyamanan. “Nanti akan ada juga regulasi mengenai bagaimana syarat dan cara perpindahan daerah atlet,” tegasnya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jateng Budi Santoso menuturkan, pengembangan sarana dan prasarana olahraga akan lebih leluasa dengan perda ini. “Perda ini diharapkan mampu melindungi daerah-daerah dari pemprov yang ingin cawe-cawe masalah tanggung jawab dan anggaran,” papar Budi.

Jika sudah klir, Budi berobsesi membawa ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke Jateng. Sepanjang sejarah, Jateng hanya satu kali menjadi tuan rumah, itupun tahun 1948. “Sebegitu parahnya kah Jateng hingga tidak bisa lagi menjad tuan rumah PON. Semoga perda ini mampu menjadi titik terang kejayaan olahraga di Jateng,” harapnya.

Penggarapan perda ini, kata Budi, sedang dikebut dan sudah dalam tahap finishing. Beberapa tahapan seperti perumusan, focus grup discussion (FGD), hingga diseminarkan telah dilakukan. “Kami berusaha menyelesaikannya secepat mungkin,” pungkasnya. (amh/smu)