Semalaman Tak Bisa Tidur, Hadiahnya buat Beli Rumah

117
HADIAH UTAMA: Ida Marufi saat menerima grand prize Rp 50 juta secara simbolis kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HADIAH UTAMA: Ida Marufi saat menerima grand prize Rp 50 juta secara simbolis kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HADIAH UTAMA: Ida Marufi saat menerima grand prize Rp 50 juta secara simbolis kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ida Marufi, warga Pucanggading, Mranggen, Demak beruntung meraih hadiah utama uang Rp 50 juta dalam event Jalan Sehat HUT ke-15 Jawa Pos Radar Semarang kemarin. Siapa sangka, kupon keberuntungan itu ternyata baru dibelinya di lokasi acara beberapa jam sebelum pengundian.

MUHAMMAD HARIYANTO

TANGIS haru pecah saat nomor undian 1363 dibacakan oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang, Arif Riyanto. Seorang wanita setengah baya yang berdiri di samping kiri panggung utama langsung histeris. ”Alhamdulillah ya Allah. Itu nomor saya,” kata ibu itu yang belakangan diketahui bernama Ida Marufi, 43, warga Pucanggading.

Sontak ia pun berlari mendekati panggung sambil menangis. Ia ditemani putri sulungnya, Anggi Silvia Wulandari, 23. Anggi pun tak kuasa menahan tangis haru. Sang anak langsung naik ke panggung dibantu Baskoro Septiadi, wartawan desk olahraga Jawa Pos Radar Semarang yang menjadi salah satu panitia. Sedangkan Ida Marufi yang kesulitan naik ke panggung sempat tertatih-tatih, dibantu M. Hariyanto, wartawan desk Balai Kota Semarang.

Di atas panggung, Ida tak pernah lelah berucap syukur kepada sang pencipta. Sambil dipapah putrinya, ia pun menerima simbolis hadiah grand prize Rp 50 juta yang diserahkan oleh Arif Riyanto bersama General Manager Jawa Pos Radar Semarang Surasto Ismu Puruhito dan angggota kepolisian Polrestabes Semarang AKP M. Baderi. ”Alhamdulillah ya Allah. Terus terang saya belum pernah pegang uang sebanyak ini,” ucap wanita berhijab itu.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Ida mengaku malam sebelumnya, ia tidak bisa tidur. Perasaan gelisah menyelimuti hati ibu penjual jajanan ini. Hal itu dialami sejak pukul 02.00 dini hari sampai menjelang pagi sebelum mengikuti jalan sehat yang digelar di halaman kantor DPRD Jateng tersebut.

”Perasaan saya resah terus. Tidur sebentar, bangun lagi. Tapi saya selalu berzikir menyebut asma Allah terus. Setelah salat Subuh, saya dan anak saya berangkat mengikuti senam pagi di Jalan Pahlawan. Memang rencananya hanya senam pagi, terus mengikuti jalan sehat. Saya beli 2 tiket jalan sehat ya baru tadi (kemarin pagi) di stan Jawa Pos Radar Semarang,” ujar ibu tiga anak, Anggi Silvia Wulandari, 23; Fidya Yuliana Pertiwi, 17 (siswi SMK), dan Unggul Adi Prasetya, 6 (siswa SD).

Ditanya akan digunakan untuk apa hadiah Rp 50 juta tersebut? Ida mengaku, uang tersebut akan digunakan untuk membeli rumah meskipun berukuran kecil. Sebab, rumah yang ditempatinya saat ini bukan miliknya sendiri. Tapi, rumah dinas milik teman Wahyulianto, suaminya, yang bekerja di TVRI Jateng.

”Suami saya hanya bekerja sebagai OB (office boy) di TVRI. Rumah yang saya tempati ya milik TVRI. Saya ngontrak sejak 2003. Memang bayarnya seikhlasnya, ibarat paseduluran. Dulu rumah itu tidak digunakan, jadi saya tempati sekalian untuk menjaga dan merawatnya,” jelasnya.

Selain akan dibelikan rumah, Ida juga akan menyisihkan untuk diberikan kepada anak panti asuhan. ”Karena hadiah itu, berapa persen juga menjadi hak anak yatim yang membutuhkan,” ucapnya.

Selain dari pendapatan suaminya sebagai office boy, Ida menghidupi ketiga anaknya dengan menjual aneka jajanan di pinggir jalan di daerah Pucanggading. Usaha tersebut dilakoninya sejak 6 bulan lalu.

”Sebelumnya saya dan keluarga orang tua berjualan nasi gudeg. Tapi, setelah orang tua meninggal, usaha itu tidak ada yang melanjutkan. Mau tidak mau, saya juga harus membantu suami membanting tulang dengan menjual jajanan,” ujarnya.

Diakui, aneka jajanan yang dijual bukan miliknya sendiri. Tapi, titipan dari orang lain untuk dijualkan. Pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu. ”Setiap biji jajanan saya ambil keuntungan Rp 200. Namanya orang jualan, kadang laku banyak, kadang sepi. Kalau banyak bisa dapat uang hingga Rp 300 ribu. Tapi kalau sepi sehari hanya dapat Rp 10 ribu. Mau tidak mau ya harus disyukuri, Mas,” ucapnya.

Usaha kecil-kecilan itu terus dilakoninya hingga sekarang. Ia beruntung, karena usahanya tersebut sekarang semakin berkembang. Ia juga kerap mendapat pesanan dari warga di sekitarnya.

”Kalau sekarang jajanan itu masak sendiri. Saya bangun pukul 03.00 subuh sudah mulai memasak dibantu anak dan suami saya. Setelah salat Subuh, saya turun menuju tempat jualan diantar bapak (suami). Pulang biasanya pukul 12.00 siang. Ya, meskipun terkadang jajanan itu tidak habis semua,” katanya.

Dengan pendapatan pas-pasan itu, ia bersama suaminya saat ini harus membiayai dua dari tiga anaknya yang kini duduk di bangku SD dan SMK. ”Dua anak masih sekolah, satunya sudah lulus. Semoga dengan mendapat hadiah utama ini, sebagian uangnya bisa menambah modal usaha. Saya sangat berterima kasih sekali kepada Jawa Pos Radar Semarang,” ujarnya. (*/aro/ce1)