Pengusaha Tas Kesulitan Bahan Baku

191
TUMBUH POSITIF : Tas-tas produk lokal yang dipamerkan dalam salah satu event belum lama ini, cukup laris manis. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUMBUH POSITIF : Tas-tas produk lokal yang dipamerkan dalam salah satu event belum lama ini, cukup laris manis. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUMBUH POSITIF : Tas-tas produk lokal yang dipamerkan dalam salah satu event belum lama ini, cukup laris manis. (NURUL PRATIDINA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Industri tas di Jawa Tengah terus menggeliat. Namun demikian, sejumlah pelaku usaha mengeluhkan masih sulitnya mendapatkan bahan baku terutama kulit dan aksesoris untuk tas.

Salah satu pengusaha tas Syanaz Nadia menyatakan bahwa sebagian besar produsen bahan baku tersebut sudah dikontrak oleh pengusaha dengan brand luar negeri.

“Bahan baku ada, tapi yang kualitas tertentu sudah diambil oleh brand ternama luar negeri dan produsen tersebut tidak boleh menjual ke pihak lain. Sehingga kami dapat sisanya, itupun rebutan dengan pelaku usaha lokal lainnya,” ujar Syanaz, kemarin (19/4).

Selain itu, lanjutnya, selama ini para pelaku UKM di bidang ini juga kesulitan untuk mendapatkan aksesoris, lantaran sebagian besar masih impor. Kalaupun memesan, maka harus dengan partai besar. Padahal, tidak semua pelaku UKM memproduksi tas dalam partai besar. “Aksesoris tas ini kebanyakan impor dari China dan harus seribu kalau pesan,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah dapat membantu perajin lokal untuk mengembangkan aksesoris tas. Hal ini tentu tak hanya membantu dalam industri tas, tapi juga membuka lapangan kerja baru di bidang aksesoris. “Menurut saya, ini peluang yang dapat dikembangkan,” tandasnya.

Sejauh ini, kata pemilik brand Roro Kenes ini, perkembangan industri tas di Jawa Tengah sudah baik. Cukup banyak perajin serta pengusaha yang fokus mengembangkan sektor ini. Sehingga untuk kualitas sumber daya manusia sudah mampu bersaing. “Sumber daya manusia, kreativitas dan semangat kita mampulah,” ujarnya.

Brandnya sendiri, Roro Kenes, diakuinya, membukukan banyak permintaan untuk konsumsi domestik. Bahkan dengan sistem online, mampu menjaring konsumen dari seluruh Indonesia. “Terbanyak memang dari Jakarta dan Semarang, namun dari luar Jawa juga ada yang pesan. Terkadang juga mereka pesan, kemudian dibawa ke luar negeri,” ujarnya. (dna/ida)