MANYARAN – Komisi Yudisial (KY) Jateng menyatakan menghormati putusan sidang gugatan pendirian pabrik PT Semen Indonesia di Kecamatan Gunem, Rembang. Dalam putusan tersebut, majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak gugatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).

“Atas putusan itu, pada prinsipnya kita menghormati. Karena putusan merupakan mahkotanya pengadilan,” kata Asisten Koordinator Penghubung KY Jawa Tengah, Muhammad Farhan, Jumat (18/4).

Farhan mengatakan, terlepas dari putusan tersebut, pihaknya juga mengawal proses persidangan secara bersama seluruh peserta sidang. Ia juga menilai kehadiran mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto (BW) dalam orasi mendukung pengugat tidak ada masalah.

“Untuk kehadiran BW saya kira tidak masalah, karena hal tersebut merupakan dukungan moral bagi para pejuang kelestarian gunung Kendeng, Rembang. Adapun putusan majelis secara umum sudah sesuai hukum acaranya dan telah dilaksanakan oleh majelis hakim dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Sumarno, koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pengunungan Kendeng (JMPPK) menganggap, putusan hakim jelas tidak memihak dengan alasan gugatan warga ditolak karena kedaluarsa kurang dari 90 hari dan itu tidak masuk akal. Ia menilai hakim dalam memberi putusan tidak melihat pokok permasalahan. “Kami tidak menduga adanya hal buruk dalam putusan itu, tapi kami mengira-ngira kenyataanya tidak sesuai, ini memungkinkan adanya permainan,” katanya.

Sumarno juga menyatakan akan melanjutkan upaya hukum ke PTUN Surabaya. “Gugatanya akan kami lanjutkan setelah 14 hari ke PTUN Surabaya, upaya banding akan terus kami lakukan hingga ke MA (Mahkamah Agung),”ujarnya.

Saat ini, lanjut Sumarno, ibu-ibu tetap ditenda dan akan terus mendirikan tenda sampai alat berat PT Semen Indonesia keluar. “Ada kabar baru, Kamis, (16\4) kemarin kami beserta ibu-ibu mau mengibarkan bendera dengan bambu runcing di depan tenda, tapi aparat keamanan dan pegawai PT Semen Indonesia langsung membubarkan,” katanya.

Sumarno mengatakan, tujuan mengibarkan bendera dengan bambu runcing hanya untuk penghormatan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia raya. “Kami dibubarkan alasannya bendera dengan bambu runcing menandakan mengajak perang,”ucapnya. (bj/ric)