NGALIYAN – Tim Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Ngaliyan kembali menangkap tersangka kasus illegal logging yang terjadi di hutan Petak 51 Resort Pemangku Hutan (RPH) Kedungpane, Kawasan Hutan Jati Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.

Tersangka adalah Edi Gotang, warga Darupono, Kaliwungu, Kendal. Ia merupakan salah satu dari belasan warga yang terlibat dalam aksi pembalakan liar atau menjarah kayu jati secara masal tersebut. ”Iya, tersangka bertambah satu. Kami menangkap seorang tersangka lagi bernama Edi Gotang,” kata Kapolsek Ngaliyan Kompol Bero Suprihatin kepada Jawa Pos Radar Semarang, ditemui di Mapolrestabes Semarang, Kamis (16/4).

Dijelaskan, Edi Gotang merupakan salah satu warga yang terlibat dalam penebangan hutan secara liar bersama sejumlah tersangka lain yang terlebih dahulu. ”Dia berperan sebagai penebang pohon dalam aksi illegal logging tersebut,” katanya.

Tiga tersangka lain yang ditangkap sebelumnya adalah, Ngateman alias Man Kancil, 50, warga Kampung Tegalsari RT 04 RW 04 Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Juminto alias Kastur, warga Kampung Ngadipiro RT 5 RW 9 Desa Kertosari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal dan Moh Indarto alias Togok, warga Kampung Dawung RT 1 RW 3 Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Sedikitnya ada 18 orang terlibat dalam pembalakan liar di hutan milik Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kendal tersebut. Para tersangka melakukan aksi terakhir di petak 51 Resort Pemangku Hutan (RPH) Kedungpane Kawasan Hutan Jati Silayur Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang, pada Minggu malam (15/2/2015) lalu.

Kasus ini terungkap setelah tim Polsek Ngaliyan menerima laporan terkait penebangan hutan secara liar tersebut. Namun setelah dicek di lokasi, para pelaku sudah kabur.

Setelah dilakukan penyisiran, aparat Polsek Ngaliyan mendapati mobil Mitsubishi L300 warna putih H-1152-AM, pengangkut kayu yang dikemudikan tersangka Togok. Mobil tersebut dihentikan oleh anggota Polsek Ngaliyan di depan SPBU Ngaliyan.

Saat diinterogasi, Togok mengaku hendak menjemput Kastur yang juga terlibat dalam aksi tersebut. Kastur ditangkap pada Senin (9/3). Hasil penyelidikan, Kastur mengaku disuruh oleh Ngateman yang kemudian ditangkap pada Jumat (13/3).

Bero Suprihatin mengaku masih terus mengembangkan penyelidikan terhadap kasus ini. Para tersangka dijerat pasal 94 ayat 1 Undang-Undang No 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, dengan ancaman pidana minimal 6 tahun dan maksimal 10 tahun. Akibat pembalakan liar yang dilakukan tersangka, negara mengalami kerugian kurang lebih Rp 80.305.000,00.

Sedangkan barang bukti yang disita adalah 14 batang kayu jati berbagai ukuran dengan panjang masing-masing 4 meter, satu unit mobil Mitsubishi L300 warna putih nomor polisi H-1152-AM, 2 buah gergaji geranggang dengan panjang 120 cm, dan satu unit kendaraan roda empat Opel Blazer warna merah dengan nomor polisi B-1154-FE.

Sebelumnya, tim Polsek Ngaliyan juga menangkap Sugiyono, 57, warga Kelurahan Ngadirejo, Mijen, Kota Semarang. Dia menggunakan dua mobil, yakni pikap dan truk untuk menyelundupkan 132 batang kayu jati gelondongan ilegal. Kayu jati tersebut berasal dari wilayah hutan Mijen, Semarang, dan hutan petak 61 D Blok Kaliblorong, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kedungpane, Semarang. Pelaku mencampur atau mengoplos kayu dari dua hutan tersebut.

Sugiyono mengelabui petugas dengan cara memalsukan sejumlah dokumen. Diketahui Surat Keterangan Asal-Usul (SKAU) dan Daftar Kayu Bulat (DKB) yang diterbitkan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang, ternyata dipalsukan. (amu/zal/ce1)