ALAMI PENDANGKALANG : Pelabuhan Kota Pekalongan mengalami pendangkalan akibat tingginya sedimentasi. Banyak kapal besar batal bersandar dan bongkar muatan, sehingga menurunkan pendapatan TPI Kota Pekalongan. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ALAMI PENDANGKALANG : Pelabuhan Kota Pekalongan mengalami pendangkalan akibat tingginya sedimentasi. Banyak kapal besar batal bersandar dan bongkar muatan, sehingga menurunkan pendapatan TPI Kota Pekalongan. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ALAMI PENDANGKALANG : Pelabuhan Kota Pekalongan mengalami pendangkalan akibat tingginya sedimentasi. Banyak kapal besar batal bersandar dan bongkar muatan, sehingga menurunkan pendapatan TPI Kota Pekalongan. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Lantaran tingginya tingkat sedimentasi hingga menyebabkan terjadinya pendangkalan, kondisi Pelabuhan Kota Pekalongan semakin mengkhawatirkan. Kapal besar sulit masuk sehingga memilih bersandar di pelabuhan lain, di Pelabuhan Juwana Pati.

Wartiko, 51, pengelola jasa penarikan kapal di Pelabuhan Kota Pekalongan mengungkapkan banyaknya kapal yang batal bongkar muat di Pelabuhan Pekalongan, menyebabkan pendapatan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) menurun drastis. Jika dibiarkan terus mengalami pendangkalan, kapal kecil pun akan kesulitan masuk.

“Kemarin ada kapal besar dari Batang yang hendak bongkar muatan di sini, tapi tidak jadi. Karena saat akan masuk dermaga, di ujung dermaga sudah dangkal. Sehingga kami arahkan untuk bongkar muat di Juwana Pati,” kata pengelola Kapal KT Cakra saat di Pelabuhan Kota Pekalongan, Kamis (16/4) kemarin.

Diakuinya, saat musim angin barat, intensitas sedimentasi yang berupa pasir dari laut memang meningkat. Namun kondisi tersebut diperparah dengan adanya bangunan tanggul baru Pelabuhan Perikanan Nusantara Kota Pekalongan (PPNP) yang menjorok ke tengah laut. “Sejak ada bangunan tanggul PPNP ini, pendangkalan semakin menjorok ke tengah pelabuhan. Sehingga menyulitkan kapal besar bersandar,” kata Wartiko.

Menurutnya, sebelum ada bangunan PPNP, sedimen pasir terbawa arus bisa masuk ke dalam dermaga. Namun dengan adanya tanggul baru yang menjorok kurang lebih 20 meter dari batas pelabuhan, maka sedimen pasir berhenti di sekitar tanggul. Sehingga pendangkalan sampai ke tengah laut.

Dengan semakin dangkalnya lautan, untuk menarik sebuah kapal besar ke pelabuhan, dibutuhkan kapal lebih banyak. “Dulu, biasanya cukup satu kapal sudah kuat untuk menarik kapal di bawah berat 70 gross ton (GT) ke pelabuhan. Tapi sekarang butuh dua kapal. Bahkan, jika kapal lebih besar, bisa butuh 3 kapal penarik,” ucapnya.

Tiko yang sudah menekuni bisnis penarikan kapal selama 20 tahun ini menerangkan, untuk sebuah kapal akan nyaman dan lebih ringan berjalan, butuh kedalaman laut minimal 3 meter dari dasar laut. Terutama bagi kapal-kapal ukuran besar di atas 130 GT atau lebih. Karena kapalnya sendiri masuk ke dalam air bisa sampai 3 meter.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPI Kota Pekalongan, Kasim Sumadi, mengaku prihatin dengan pedangkalan tersebut. Banyak kapal besar yang baru bisa masuk pelabuhan saat waktu air laut pasang. Bahkan harus ditarik dengan kapal lain. “Padahal, dulu saat masih bagus, kapal bisa dengan mudah keluar masuk pelabuhan,” terang Kasim.

Terkait masalah sedimentasi, kata Kasim, pemerintah pusat sudah menganggarkan dana sebesar Rp 8,7 miliar pada 2015 ini. Anggaran tersebut akan cair lewat PPNP. “Kami nantinya hanya sebagai penyedia jasa saja. Mengenai pembiayaan yang mengerti dari pihak PPNP,” jelasnya.

Pengerukan, imbuhnya, sesuai jadwal akan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni. Lokasinya kurang lebih 1 kilometer dari lokasi masuknya pelabuhan sampai sepanjang kapal bersandar. Dana pengerukan murni dari kementrian pusat, tidak ada angaran APBD Kota Pekalongan. “Karena itulah, Kota Pekalongan tidak bertanggung jawab sepenuhnya dalam pengerukan tersebut,” tandasnya. (han/ida)